LOGO

LOGO
LOGO PARKIR

Kamis, 12 Februari 2009

KUMPULAN PUISI JUMAT AGUNG & PASKAH

V I A D O L O R O S A

Satu : Mengucur darah dan airmata yang adalah kasih
Dua : Menguak terurai sebagai luka tubuh demi penyataan Cinta Abadi
Tiga : Merasuk kalbu segala cercaan makian namun hati tiada berpaling
Empat : Maut menjemput mengajak mengarungi kedalamannya
Lima : Sampai akhirnya bangkit sebagai kebenaran hakiki
Enam : Sebagai Pawarta Agung
Tujuh : Bahwa kematianNya adalah demi penebusan
Delapan : Segala cela nista dosa umat manusia
Sembilan : Melebur dalam pasarah sumarah sepi ing pamrih
Sepuluh : Sebagai media murni kehidupan
Sebelas : Untuk Lahir Baru!
Dua belas : Menjadikan Sang Putera sebagai Teladan Sejati


23 Mei ‘03

T E L A D A N

Lihat kayu itu dipanggul
Rasakan Tubuh itu disesah
Bayangkan Kepala itu dimahkotai duri
… Namun piala tetap diminumNya

Lihat Tangan dan Kaki itu direjam
Rasakan Tubuh itu terpaku di salib
Bayangkan Badan itu dihujam tombak
… Namun lakon terus berlanjut

Lihat deraan lahir menusuk jiwa
Rasakan cercaan menerpa batin
Semua begitu memilukan
Semua begitu menyayat
Semua begitu mengiris
Terurai dalam
Ketulusan
Kepasrahan
Kelembutan
Ketegaran
Melampaui segala bentuk keakuan
Citra Teladan menyemat
Dalam wujud Junjungan Manusia
Gusti Pangeran ingkang Kuasa
Yesus Kristus



4 September 2001




LIHAT ITU SALIB

Lihat itu Salib
Dipikul
Dipanggul
Dibopong
Lihat itu langkah terseret
Dicambuk
Dipecut
Berdarah
Ahhh … !
Lihat itu tubuh
Dipaku
Direjam
Ditombak
Itu dikenang
Itu diresapi
Itu direnungi
Itu bahan kontemplasi
Itu materi diskusi
Itu dulu … !
Sang Anak Manusia Mengejawantah
Sekarang
Kini
Hari ini …
Lihat itu Salib
Kosong
Melompong
Hampa
Terpajang indah penuh estetika
Terpasang penuh nuansa
Terbentang penuh romansa
Tapi …
Adakah dilingkupi makna




Adakah diliputi selaksa doa
Atau …
Hanya simbol
Perlambang
Aksesoris
Hiasan
Benarkah ?



Salib itu kehilangan spirit
Tertutup kelekatan
Keakuan
Absolutisme semu
Sekat-sekat pranata
Ciptaan ketakutan diri
Benarkah ?
Belum
Not yet … !
Lihat itu Salib
Rindu dendam menanti
Penuh kepasrahan
Ditempatkan pada kesejatian eksistensi


16 Januari 2001



SEBUAH REFLEKSI

Pada sebuah keheningan
Aku melihat ...
Sorot mata penuh penyerahan diri nan sempurna.
Ada juga kulihat sekilas berganti dengan sorot mata ketakutan yang sangat akan siksa yang menjemput di depan. Namun, hanya sekilas sorot ketakutan itu nampak. Selebihnya hanya penyerahan meraja.
Kemudian aku saksikan ...
Jerit kesakitan yang menyengat ketika cambuk mendarat di kult. Dan kembali jeritan-jeritan yang terlontar mengandung penyerahan yang mendalam.
Lantas aku lihat ...
Tetes demi tetes darah mulai mengalir. Di satu tempat ... dua tempat ... tiga tempat ... dan akhirnya di sekujur tubuh. Tetesan darah yang yang memilukan. Dan lagi-lagi, penyerahan utuh mewarnai merahnya darah.
Berikutnya aku dengar ...
Erangan bergema dari atas kayu salib sebagai tanda dari derita tak terkira. Penderitaan yang harus dipikul oleh Tubuh yang terpaku demi menanggung apa yang tidak dilakukanNya. Tapi derita dilalui juga dengan penyerahan sejati.
Kembali aku mendengar ...
Teriakan akhir, “BapaKu ... BapaKu ... mengapa Engkau meninggalkan Aku?” mengiringi kematianNya. Kematian sebagai karya yang penuh kesakitan tak terhingga. Namun teriakan itu diikuti oleh penyerahan tak tercela.
Begitulah ...
PENYERAHAN TOTAL
Sebagai buah kasih sejati
Menjadi landasan
Akan pengorbanan Sang Putera
Demi misi
Karya penyelamatan
Lalu ...
Mengapa hati masih mengeras
Kepala menengadah arogan
Jiwa mencari pembenaran
Pikiran memburu pembelaan
Mengapa ...?

28032007



THE BLOODY HEAD




Hanyut diri pada suasana alam
Sunyi meraja
Sepi mencekam
Menghantarkan aura kontemplasi
Sambil bertelut khusuk
Jiwa tertunduk
Terampu dalam alunan
“ Kepala yang berdarah
Tertunduk sedih
Penuh dengan sengsara
Dan luka yang pedih “
Duh Gusti Kawula !
Duh Yesus !
Duh Sang Anak Manusia !
Tiada henti Dikau menyentuh membelai
Meminggirkan pamrih
Menepikan balas jasa
“ Meski mahkota duri
Menghina harkatMu
Kau patut kukagumi
Terima hormatku “
Terimalah !
Karena itu yang hanya diri mampu



Sumber : KJ no. 170

22 Maret 2004



JALAN SALIB




Menjelang tengah malam,
Konspirasi tercipta !
Sang Anak Manusia ditukar 30 keping logam perak
Begitulah .......

Dini hari mencekam
Menghantarkan kegalauan
Bermuara kepasrahan
Penuh utuh
Bahwa piala tak mungkin lalu kecuali harus diminumNya

Waktu terus merambat,
Proses rekayasa semakin sempurna
Sampai .......
Tiba saatNya dicambuk
Tiba saatNya didera
Tiba saatNya memanggul salib
Tiba saatNya dipaku
Tiba saatNya disalibkan
Dan ........
Tiba saatNya meregang nyawa

Demikianlah
Kulminasi kasih setia telah ternyatakan
Bagi penebusan dosa
Umat manusia



08 April 2004




SYAIR TIGA BABAK



PERTAMA : TAMAN GETSEMANI
Lalu pergilah Yesus bersama-sama murid-muridNya keluar kota menuju Bukit Zaitun, di mana terdapat Taman Getsemani, tempat yang sering dikunjungi Yesus.
Sesampainya di Taman Getsemani, Ia berkata pada murid-muridNYa :“Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa.
Suasana sepi mencekam mengiringi kegentaran Sang Anak Manusia. Bulir-bulir keringat menetes layaknya tetesan darah menyertai doaNya,“Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripadaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Tiga kali Ia berdoa yang sama, doa yang menggambarkan ketakutan meraja.
KemanusiaanNya semakin nyata, namun dengan kepasrahan mendalam Sang Anak Manusia tetap menghadapi kenyataan yang akan terjadi di depan mata demi karya penyelamatan umat manusia.
Tibalah saatNya ...........
Babak awal menuju kematian dimulai,
Melalui tanda ciuman Yudas Iskariot, sang murid, Yesus
ditangkap
diikat
digiring
Demi 30 keping uang perak Yudas menyerahkan Sang Guru untuk dihakimi.

KEDUA : PENGADILAN
Yesus digelandang dihadapkan pada Mahkamah Agama, proses rekayasa mencapai babak selanjutnya !
Sementara ................
Murid-muridNya tercerai-berai meninggalkan diriNya sendirian di tengah-tengah kerumunan nafsu melenyapkan diriNya.
Sementara ............
Petrus hanya berani mengendap-ngendap menyaksikan Sang Guru,
Bahkan ..................
Petrus sampai 3x menyangkal keberadaan Yesus sebagai Gurunya, seperti telah digariskan melalui perkataanNya,
“Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”
Pada akhirnya ...........
Proses rekayasa terus berlanjut,
Saksi-saksi dusta mencuat keluar demi tujuan tunggal
KEMATIAN YESUS
Sewaktu Yesus digiring menuju Pontius Pilatus, Wali Negeri Romawi,Sang Pengkhianat menyesali perbuatannya. Dilemparnya keping uang alat pertukaran tubuh Sang Anak Manusia tanda penyesalan mendalam,
Dan puncaknya ........
Nyawa Yudas berakhir di tali gantungan.
Begitulah ...............

KETIGA : PENGADILAN PILATUS DAN JALAN SALIB
Sebenarnya .......
Sang wali negeri tidak melihat sesuatu pun kesalahan pada diri Yesus. Namun, pada akhirnya ia lebih memilih untuk mengorbankan nyawa Sang Anak Manusia demi kepentingan orang banyak. Dan pembasuhan tangan di dalam air, menyimbolkan sikap sang waLi negeri untuk lepas tangan dalam proses kematian Yesus
Tiba saatNya disiksa
Tiba saatNya dipecut
Tiba saatNya tetesan darah bercucuran
Tiba saatNya mahkota duri disematkan
Tiba saatNya dihinakan
Tiba saatNya digelandang menuju Bukit Tengkorak
Tiba saatNya memanggul salib
Ooooohhhhhhhhhhh ............
TubuhNya roboh tersungkur
terjerembab
Menahan perih dan luka menyayat
Namun lakon terus berlanjut
Untuk Kedua kalinya ..........
Raga itu kembali terjatuh
Limbung .......... ambruk ke tanah
Masih ditambah
Cambuk terus mendera
Ejekan terus terdengar
Namun meski terseok langkah tetap ditapaki
Dan .............
Kembali tubuh penuh kepasrahan itu tersungkur
Menanggung derita tiada tertahan
Menusuk relung kalbu
Akhirnya,
Langkah tertatih milik Sang Anak Manusia
Tiba di puncak bukit
Dibantu Simon, seorang hamba setia dari Kirene
Lihat ...............
Penderitaan belumlah berakhir
Tubuh lunglai itu direbahkan
Aaaaaaahhhhhhhhh ............
Paku-paku direjamkan
Tangan .................
Kaki .................
Merah ......... darah mencuat keluar
Menyesakkan hati
Yesus disalibkan !
Disandingkan dengan dua orang pesakitan
Disematkan Tulisan “Raja Orang Yahudi”
Dijadikan bahan olok-olok
Namun, kemurahan hati tetap meliputi hatiNya
Demikianlah proses penderaan berlangsung
Sampai ........................
Tiba saatNya meregang nyawa !!!!
Tuntas sudah piala diminumNya
I A W A F A T


30 Maret 2005




SALIBKAN DIA ! SALIBKAN DIA !
(Sebuah Drama Prosesi Penyaliban Yesus)


• Ilustrasi musik pujian “Kepala yang Berdarah” (KJ no. 170)
PROLOG
Narator : Pengorbanan Yang tulus
Sebagai pencerminan kasih setia
Itulah,
Keteladanan sejati
Yang dinyatakan oleh
Yesus Kristus
Sang Anak Manusia
Junjungan Abadi umat manusia
• Ilustrasi musik berhenti
BABAK I
Setting : Kediaman Kayafas
(Imam-imam berembug untuk melakukan tipu muslihat membunuh Yesus)
Imam I : Kita harus membunuh orang itu, karena rakyat sudah semakin percaya pada dirinya
Imam II : Tapi harus dengan cara yang tepat, kawan ! Tidak dengan sembarangan.
Imam III : Kita hasut saja Yudas, supaya ia menyerahkan gurunya.
Imam II : Hm ..... boleh juga idenya ! Ayo segera kita laksanakan !
Imam I : Tapi ingat ! jangan pada perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.
Semua : Baik !
Yudas dan Kayafas naik panggung
Kayafas : Hai Yudas saudaraku ! Mari masuk !
Yudas : Baik, aku sudah tahu maksud kalian. Tapi tentu saja tidak ada yang gratis.
Kayafas : Tentu ... tentu !
Yudas : Terus, kalian mau memberi aku apa, kalau aku serahkan Dia pada kalian semua he ?
Kayafas : He... he...he...., 30 keping uang perak cukup kan ?
Yudas : Baik, aku setuju.
Narator : Begitulah,
Sebuah muslihat telah disepakati.
Muslihat yang menghantarkan pada penyaliban Yesus. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya,
“Setelah selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-Nya : “Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.” (Matius 26 : 1-2)

BABAK II
Setting : Taman Getsemani dan Mahkamah Agama
Yesus : (sedang berdoa, bersimpuh di sebuah batu)
“Ya, Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin biaralah cawan ini alu daripada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26 : 39)
(selesai berdoa, berjalan menghampiri Petrus)
Petrus : Baiklah, Guru !
Yesus : (kembali bersimpuh memanjatkan doa)
“Ya, Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu !” (Matius 26 : 42b).
(kembali Ia menghampiri murid-muridNya)
Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.
Saat Yesus sedang berbicara, Yudas datang beserta para tukang pukul)
Yudas : tunggu tanda dariku! Begitu kalian lihat aku mencium salah seorang dari mereka, tangkaplah orang itu! Kalian paham?
Prajurit-2 : Paham!
Yudas : Baik, ayo jalan!
(Yudas menghampiri Yesus dan murid-muridNya dan memberi salam lalu menciumNya)
Imam I : Itu Dia! Ayo tangkap!
Imam II : Pukul saja sampai remuk!
Imam I : Habisi Dia! Jangan kasih ampun!
Prajurit I : Lihat! Lihat! Lari semua anak buah-Nya! Dasar pengecut!
Prajurit II : Ayo ikut! Biar disidang di Mahkamah Agama!
(sambil menyeret Yesus yang sudah terikat)

(Suasana Sidang Mahkamah Agama)
Kayafas : Baik, para hadirin Sidang Mahkamah Agama dimulai! Dengan terdakwa kali ini adalah Yesus dari Nazareth, dengan tuduhan menghujat Allah.
Silakan saksi memberikan penjelasan!
Saksi : Ya, orang itu! Ia yang pernah berkata, “Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan dapat membangunnya kembali dalam tiga hari”.
Kayafas : Hey! Mengapa Kau diam saja! Jawablah! Sangkallah kesaksian tadi.
Hey! Masih juga diam!
Baik, sekarang Kau jawab! Benarkah Kau Mesias, Anak Allah?
Yesus : Engkau telah mengatakannya.
Akan tetapi Aku berkata padamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang maha Kuasa dan datang di atas awan-awan di langit. (Matius 26 : 64)
Kayafas : Dengar! Ia telah menghujat Allah!
Cukup!
Tidak perlu pakai saksi lagi, semua sudah jelas, Ia bersalah!
Orang-2 : Ia harus dihukum mati! Mati! Mati! Mati!
(Para prajurit menganiaya Yesus)
Orang I : Hey! Bukankah kamu yang juga selalu bersama Orang Galilea itu?
Ayo mengaku!
Petrus : Jangan memfitnah! Aku tidak mengerti maksud perkataanmu tadi!
(kemudian beranjak pergi)
Orang II : Orang itu! Ia bersama-sama dengan Yesus dari Nazareth! Ya, aku yakin pernah melihatnya!
Petrus : Sembarangan! Aku tidak pernah kenal Dia!
Orang III : Benar!
Aku juga pernah melihatnya, dan lagi gaya bahasanya sama dengan Yesus itu.
Petrus : Sungguh! Aku tidak mengenal Dia!
(lalu pergi menjauh)
Narator : Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya,
“Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Matius 26 : 15)
Lalu ia pergi keluar ruang sidang dan menangis dengan sedihnya.
Kayafas : Baik, keputusan telah diambil! Yesus dari Nazareth dinyatakan BERSALAH!
Dan dijatuhi HUKUMAN MATI.
Selanjutnya akan diserahkan pada Tuan Pontius Pilatus.
Sidang ditutup! (Mengetuk palu 3 kali)
(panggung sepi, kemudian masuk Yudas)
• Iringan musik instrumentalia
Yudas : Oh .......! Apa yang telah kulakukan!
Narator : Penyesalan selalu datang belakangan
Demikianlah juga yang terjadi pada diri Yudas Iskariot
Yang telah menyerahkan Gurunya, Yesus Kristus
Ke dalam penderaan dan penderitaan
Penyesalan yang berujung pada kematian sang pengkhianat
Di tali gantungan
Demikianlah

BABAK III
Setting : Kediaman Pontius Pilatus – Bukit Golgota
• Iringan musik instrumentalia
(Para pemain memasuki panggiung)
Pilatus : Jadi, Engkaukah Raja Orang yahudi itu?
Yesus : Engkau sendiri mengatakannya!
Pilatus : Hmm ......., dengarlah!
Tuduhan menghujat Allah adalah tuduhan berat!
Apa pembelaanMu?
(Yesus tidak menjawab pertanyaan Pilatus)
Pilatus : Engkau tidak mau menjawabnya? Baiklah, terserah padaMu!
Nah rakyatku, sesuai kebiasaan pada hari raya
Aku akan membebaskan seorang tahanan.
Sekarang pilihlah, Barabas atau Yesus yang disebut Kristus ini?
Orang-2 : Bebaskan Barabas 3x!
Pilatus : Baik! Barabas akan kubebaskan
Lantas, terhadap Yesus ini, mau diapakan?
Orang-2 : Salibkan Dia! Salibkan Dia!
Pilatus : Tapi ..........aku tidak melihat satu kesalahan padaNya!
Orang-2 : Salibkan Dia! Salibkan Dia!
Pilatus : Baik! Baik!
Itu permintaan kalian, aku tidak menanggung akibat dari permintaan kalian ini!
Kalian sendiri yang menaggung akibatnya!
(Pilatus membasuh tangannya sebagai tanda ia tidak bertanggung jawab atas penyaliban Yesus)
• Iringan musik instrumentalia
(Yesus digelandang untuk dicambuk)
Narator : Kembali penderaan ditimpakan pada diri Sang Anak Manusia
Deraan fisik yang menyakitkan
Namun, dengan tabah piala tetap diminumNya
Lecutan demi lecutan diterimaNya dengan hanya berserah
(Para prajurit mengenakan jubah ungu pada tubuh Yesus, kemudian mereka juga mengenakan mahkota duri di kepala Yesus)
Prajurit-2 : Salam, hai Raja Orang Yahudi!
(berlutut sambil tertawa mengolok-ngolok Yesus)
(Perjalanan Yesus memanggul salib menuju Bukit Golgota)
Narator : Bukan semata deraan fisik,
Namun lebih dari itu deraan batin juga ditimpakan pada PuteraNya Yang Tunggal
Begitu menyayat
Begitu mengiris
Begitu memilukan
(Yesus jatuh yang pertama kali dalam Jalan Salib)
Namun lakon terus berlanjut
Langkah demi langkah dilalui dengan tabah
Beban berat dipikul dengan pasrah
Cercaan dan makian diterima dengan sabar
(Yesus jatuh yang kedua kalinya)
Semua memang harus berlaku
Seperti yang telah digariskan,
"Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.” (Matius 26 : 2)
(Yesus jatuh untuk ketiga kalinya)
Prajurit I : Hey, kau kemari!
Ayo pikul salibNya! Ia sudah tidak berdaya
Simon : Baik, Tuan!
(Yesus dengan dibantu Simon dari Kirene tiba di Bukit Golgota
Lalu jubah dan pakaianNya ditanggalkan
Kemudian tubuhNya dipakukan di kayu salib)
Prajurit I : Ayo kita undi, siapa yang berhak mendapatkan pakaian Raja Orang yahudi itu (tertawa mengejek)
Prajurit II : Baik, siapa takut!
(mengeluarkan kepingan uang logam)
Kau pilih mana, sisi ini atau yang sebelahnya?
Prajurit I : Aku pilih ini!
Prajurit II : Baik! Hup! (melempar kepingan uang)
Hahaha .....! Aku menang! Aku menang!
Kemarikan pakaianNya itu biar aku buat alas duduk!
(Sementara itu, ada serombongan orang menghampiri Yesus di kayu salib)
Orang I : Hai, Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci!
Orang II : Selamatkanlah diriMu, jikalau Engkau memang anak Allah
Ayo turun dari salib itu! Ayo cepat lakukan!
Orang III : Dasar penipu! Pembohong!
Orang I : Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!
Orang II : Inikah raja Orang Israel? Ayo turun dari salib itu!
Jika benar Engkau bisa turun, maka kami akan percaya
Orang III : Ah ....... mana buktinya?
Dasar Pembohong ......... cuiiiihhhh!
• Musik instrumentalia mengalun
Narator : Sore menjelang, matahari mulai condong ke barat
Saatnya maut menjemput
Sang Putera
Demi karya agung
Penebusan dosa umat manusia
Yesus : Eloi! Eloi! Lama Sabakhtani!
Narator : Sang Anak manusia Wafat!
Menghembuskan nafasNya penghabisan
Disertai seruan,
“AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Seruan terakhir
Sebagai puncak kepasrahan menghadapi hinaan dan deraan
Demi karya penyelamatan umat manusia

7 komentar:

agus mengatakan...

Sebuah karya yg indah,singkat padat dan berisi serta sederhana dalam penyampain maksud..
ada sedikit pertanyaan dr saya ,apakah boleh saya pergakan drama singkat ini di panggung gereja kami dalam rangka paskah tahun ini..? trima kasih Tuhan Yesus memberkati kreativitas dan kesaksian saudara..

beny_ambon mengatakan...

kata-kata yang menggugah jiwa dalam memaknai arti paskah yang sesungguhnya....
terima kasih semoga dipakai Tuhan Lebih Luar Biasa Lagi...

Tatiana mengatakan...

ini adalah karya yg sangat bagus,Dan ini mengentuh hati saya trima kasih semoga tuhan memberkati

candiecandie mengatakan...

saya tertarik menggunakan beberapa puisi di sini untuk malam renungan di gereja kami. apakah diizinkan? dan bila boleh, bagaimana menuliskan kreditnya? salam- christine

alwinda tasarane mengatakan...

Karya yang menganggungkan. TUHAN YESUS MEMBERKATI

Fianty Gosal mengatakan...

Saya tertarik menggunakan puisi d atas untuk ibadah Jumat Agung gereja kami. Bagaimana pnulisan credit nya?
Trimakasih...

Fianty Gosal mengatakan...

Saya tertarik menggunakan puisi d atas untuk ibadah Jumat Agung gereja kami. Bagaimana pnulisan credit nya?
Trimakasih...