LOGO

LOGO
LOGO PARKIR

Rabu, 04 Februari 2009

AKU MEMILIH MAKA AKU ADA

LEMBARAN VII

STUPA MAHAKARYA ABADI


Selantun nada keluar dari benda mungil nan canggih di dalam saku celana panjang Aji, yang segera mengeluarkan benda sumber nada tersebut, memencet tombol yes, serta membaca Short Message System yang baru saja diterimanya.
“Hmmm ... SMS dari Agni! Bawa kabar apa dia dari Bandungan? Mudah-mudahan sudah ada titik terang ....”, maka terlihatlah deretan berita dalam layar monitor si mungil alat komunikasi multi fungsi buatan manusia modern yang digenggam Aji:
From : 1st Twin Sister
Mz Aji, Mitha ga ad d Bndungan! Aq mo ke Ambarwa dl sbl k Kopng skg, dpt info klo ade qta suka ke mba Yos dsn. Mz ttp cr jg ya n keep in touch see ya!
Aji menekan beberapa tombol dan meletakkan kembali ‘si pembawa pesan’ ke tempatnya semula. Tangannya ganti merogoh saku bagian atas jaket parasut yang dikenakannya dan mengambil sebatang sigaret dari kotaknya, dibakar, dan dihisapnya dalam-dalam.
“Hmmmhh ....! Mitha, adikku, di mana gerangan kamu sekarang? Semakin carut marut saja misteri ini!”
“Engkau seperti hilang lenyap ditelan mayapada dan seakan tidak seorang pun tahu keberadaanmu, genduk ragil satu ini, perempuan bungsu nan malang, shit! Permainan apa lagi yang Kau rencanakan Sang Maha Misteri?” Ada sikap protes keluar dari benak Aji, sikap protes yang sebenarnya bermuara dari rasa keprihatinan mendalam atas apa yang tengah menimpa Mitha, adik kembar bungsunya itu.
Ya .... beberapa tempat yang dimungkinkan didatangi oleh Mitha telah coba ditelusuri, namun sejauh ini masih nihil! Jangankan untuk menemukan Mitha, untuk mendapatkan informasi di mana keberadaan Mitha sama sekali tidak ada titik terang.
Aji sepakat, demi efektivitas, berbagi dengan Agni, sang adik kembar pertamanya untuk mendatangi tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh Mitha. Sejauh ini Aji telah ke Klaten tempat Om Pranoto, adik laki-laki satu-satunya dari mendiang Mama mereka bertiga, hasilnya Mitha tidak pernah ke sana dalam beberapa bulan ini. Om Pranoto bahkan kaget bukan kepalang setelah Aji menceritakan apa yang terjadi pada Mitha, dan langsung berangkat ke Surabaya menemui Pakde Wismoyo, kakak Papa sang kembar tiga untuk langsung meluncur ke Jakarta menemui Papa Harisman.
Aji kena semprot habis-habisan karena tidak merundingkan dengan para orang tua mengenai kondisi Mitha dan hanya mengandalkan cara-cara penyelesaian model anak muda serba tak berpikir panjang, walaupun pada akhirnya Om Pranoto memahami sikap Aji dan Agni, serta Bulik Wahyu, istri Om Edi di Ungaran yang adalah juga adik kembar Papa Harisman untuk mencoba menemukan Mitha terlebih dahulu baru kemudian diadakan rembug keluarga. Om Pranoto sadar akan sikap keras Mas Haris yang hanya dapat dinetralisir oleh Mas Wis di Surabaya sana, dan mengambil inisiatif untuk menjadi pembawa kabar bagi para orang tua sedangkan Aji dan Agni meneruskan pencarian Mitha.
Setelah dari Klaten, Aji meneruskan pencarian ke Jogjakarta, tempat Monika teman karib Mitha di SMU dulu dan sekarang menimba ilmu di Kota Pelajar itu, hasilnya sama saja! Kemudian ke Magelang tempat Om Liem Wijaya, paman Hananto almarhum, yang juga cukup dekat dengan Mitha, hasilnya idem!
Belum lagi adiknya, Agni, yang menelusuri ke Bandungan, tepatnya ke ‘Graha Pendoa’ asuhan Kak Cornelia tempat si genduk ragil kerap berkunjung ke sana dan hasilnya nihil seperti SMS yang baru saja diterimanya!
“Oh God! Belum cukupkah tanjakan-tanjakan terjal yang harus dilalui Mitha, adikku tersayang, dalam menapaki hidupnya? Apalagi dia sedang berbadan dua sekarang, ada apa ini Tuhan?” Aji menerawang jauh sejurus deretan perbukitan Menoreh, perbukitan yang konon adalah wujud Sang Maestro Gunadharma dalam tidur abadinya di sisi mahakarya abadi nan megah yang diarsitekinya. Sebuah mahakarya berupa bangunan batu menutupi sebuah bukit sebagai wahana peziarahan menuju tercapainya moksa, kelepasan keakuan demi menyatunya diri pada Sang Khalik. Sebuah mahakarya anak-anak bangsa Nusantara pada masa wangsa-wangsa bertahta di tanah, tepatnya pada masa Wangsa Syailendra Wardhana di sekitar abad 7-9 M. Sebuah mahakarya hasil usaha keras dan cerdas yang memakan waktu 50-70 tahun untuk mewujudkannya, tidak hanya sekadar sebagai wujud keperkasaan dan kehebatan eksistensi manusia namun lebih dari itu merupakan implementasi ungkapan rasa syukur pada Sang Maha Ada, yang membuat kehidupan menjadi ada. Sebuah mahakarya bernama BOROBUDUR.
Bangunan candi yang boleh dikatakan merepresentasikan masa-masa puncak kejayaan kerajaan-kerajaan Jawa dan masa puncak penghayatan akan ungkapan religiositas pada ajaran agama. Kerajaan baik bercorak Hindu dengan Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Gedongsongo, dan lain-lain. Atau juga kerajaan bercorak Budha, khususnya dari aliran Mahayana, dengan Candi Borobudur, Candi mendut, Candi Pawon, dan lain-lain. Bangunan-bangunan yang banyak bertebaran terutama di bagian tengah pulau kaya padi dan gunung berapi ini, yang merupakan simbol betapa makmur-tentram-relatif aman tata tentrem kerta raharja pada masa itu. Mengingat bahwa pembangunan sebuah candi tentunya akan menghabiskan dana yang tidak sedikit dan juga membutuhkan kondisi yang jauh dari adanya gejolak-gejolak pergolakan penuh carut marut intrik-intrik huru-hara atau perang berkepanjangan.
Sang anak muda setengah putus asa ini menyandarkan tubuhnya pada sebuah stupa besar di antara 72 buah stupa yang ada di seluruh bangunan candi, “Oh .... Tuhan! Aku memang jarang memohon padaMu, bahkan hampir selalu sinis menghadapi keberadaanMu. Namun kali ini, ijinkanlah aku, Aji sang penggerutu, memohon padaMu, ya hanya padaMu, untuk Kau berikan petunjuk di mana keberadaan Mitha, adik kami!”
“Kalau pun Kau mau ambil adik kami, seperti juga Kau ambil Mama dari kami di saat melahirkan kami bertiga, jangan Kau biarkan kami terlambat dan tidak berada di sisi Mitha di saat-saat terakhir, please God! Dengarkanlah kami!”
“Tuhan ...! Mungkin selama ini aku sama sekali tidak pernah membuang keakuanku setiap menghadap padaMu, dan tempat ini konon dibangun sebagai media perjalanan menuju kedekatan padaMu, maka biarlah aku mencapainya!” Ya .... Borobudur memang dibangun berdasarkan pemahaman religius bahwa manusia harus melepaskan segala keinginan diri demi mencapai nirwana. Sebuah tempat sebagai sarana ritual perjalanan menuju kelepasan samsara , ritual yang ditapaki dari bawah menuju ke puncak candi dengan melalui beberapa tingkatan atau tahap kualitas kehidupan. Proses perjalanan spiritual demi terbebas dari karma yang tentu saja tidak semudah mengedipkan mata.
“Karma! Benarkah itu ada, ya Tuhan?”
“Selama ini aku tidak pernah percaya akan konsep karma dan reinkarnasi, di samping aku juga dididik dalam ajaran agama yang tidak mengenal konsep-konsep itu. Namun, jujur ya Tuhan .... setelah apa yang terjadi pada Mitha, aku jadi bertanya-tanya, benarkah karma itu ada? Oh Tuhan ....!” Aji tertunduk lemah, hampir seluruh daya hidupnya musnah saat ini mengahadapi realita yang menyakitkan menganga di depannya.
“Hei .... Yang Maha Punya Hidup! Sungguh aku menyesal atas segala kemaksiatan diriku ini, atas dosa-noda-cela yang telah kutorehkan pada Anita di Temanggung sana! Tapi mengapa Kau timpakan balasannya pada Mitha? Kenapa tidak padaku, ya Tuhan?” Tersedu-sedu Aji mempertanyakan sekaligus menyesali segala perbuatannya di masa lalu, akan sebentuk ‘permainan rasa bahkan permainan api hasrat’ terhadap Anita, seorang gadis lugu yang dengan kesungguhan dan ketulusan hati menyayangi dirinya, namun justru hanya dijadikan boneka mainan oleh Aji.
“Baiklah .... seperti tujuan sejak semula datang ke sini! Aku akan wujudkan permohonanku dalam bentuk berziarah, ber-pradaksina di tempat agung ini! Ya, akan aku coba menapaki Borobudur ini dari bawah sampai atas sebagai laku atas permohonan pada Sang Maha Ada!” Aji bangkit dan mulai mempersiapkan diri, hati, serta pikirannya menuju pada satu titik fokus.
“Memang aku bukan penganut agama Budha. Bukan umat yang memegang ajaran dharma selaku jalan menuju pencapaian moksa meninggalkan samsara, tapi aku yakin Tuhan ada di mana saja dan selalu mendengar permohonan dengan kesungguhan hati seluruh umatNya apa pun cara yang dilakukannya!”
“Sang Maha Segala! Bimbing aku dan dengarkanlah permohonanku ...”

# # #

Sosok tubuh muda Aji telah berpradaksina memasuki undak-undakan ke-5 atau undakan terakhir dari badan candi, sebenarnya lebih tepat disebut stupa daripada candi, Borobudur, yang disebut Rupadhatu dalam bahasa Sansekerta dan berarti Dunia Rupa. Bagian stupa Rupadhatu ini merupakan simbol tingkat dunia manusia sempurna “Bhuwarloka”, tingkat ke-2 dari 3 tingkatan yang ada pada stupa peninggalan Raja Smaratungga ini. 3 tingkatan yang disusun berdasarkan dunia alam semesta menurut ajaran Sang Budha; dunia manusia biasa “bhurloka”, “bhuwarloka”, dan dunia kedewaan “swarloka” atau “swargaloka”.
Bhurloka diwakili oleh kaki-kaki stupa “kamadhatu” atau dunia hasrat, dengan relief-relief melulu menggambarkan perbuatan manusia yang selalu mengedepankan hasrat semata, dari hasrat memiliki, menguasai, mencelakakan, sampai hasrat seksual digambarkan secara apa adanya menurut penggambaran kala itu. Sehingga ada anggapan bahwa bagian “kamadhatu” yang sampai sekarang ditutup sejak pemugaran besar-besaran selama kurun waktu tahun 1973-1983, adalah karena relief-relief tersebut sebaiknya tidak diperlihatkan kepada khalayak umum. Relief-relief dalam “kamadhatu” dianggap terlalu vulgar untuk dipertontonkan.
Mungkin saja anggapan tersebut benar adanya, namun yang lebih tepat penutupan relief-relief tersebut adalah karena faktor keamanan, penutupan lebih ditujukan untuk menambah penopang bangunan stupa agar tidak longsor karena bangunan stupa Borobudur tidak memiliki pondasi ke dalam.
Aji berhenti sejenak, “O .... Jagad Dewa Batara! Gusti Pangeran! Sang Empu Segala Jagad! Sebentar lagi aku memasuki dunia tanpa rupa “Arupadhatu”, dunia tempat persemayaman para dewa! Bimbing aku ya Tuhan .... agar aku masuk ke kediamanMu tanpa membawa keakuan, tanpa kelekatan ego!” Aji memejamkan mata mencoba memusatkan darana menuju pratyahara , mencoba lepas dari segala keinginan dan hasrat diri sendiri.
Setelah beberapa lama, perlahan Aji membuka mata dan meneruskan perjalanan memasuki tingkat terakhir “Arupadhatu”. Sebuah bagian yang terdiri dari batur bundar dengan stupa induk di tengahnya, bagian sebagai puncak Stupa Borobudur. Sebuah mahakarya stupa raksasa yang dipenuhi stupa-stupa lebih kecil di seluruh bagiannnya, tidak kurang dari 1.472 buah stupa ada dalam Borobudur.

# # #

Aji telah menyelesaikan pradaksina-nya. Kemudian dirinya duduk mengambil sikap Dhyani Budha, sikap meditasi memusatkan hati dan pikiran seperti yang dilakukan Sang Budha gautama. Setelah berkonsentrasi dan mengatur pernapasan sebentar, Aji kemudian mengambil sikap Abhya-mudra, yaitu sikap tangan menenangkan batin. Mudra atau sikap tangan seperti tergambar pada arca Dhyani Budah Amoghasidda di bagian utara Stupa Borobudur.
Angin kencang berhembus pada senja pukul tujuhan malam ini, menerpa tubuh Aji, mengibaskan rambut panjang terurai miliknya. Namun tak mampu menggoyahkan darana sang anak muda penuh gelora dan penyesalan mendalam yang tengah mencoba untuk bangkit, untuk mencapai tingkat kesadaran dan kepasrahan yang hanya berpusat pada Sang Khalik.
Sementara Stupa Agung Borobudur menjadi saksi pergolakan batin sang anak muda, usaha olah batin yang melintasi lebih dari sekadar ritual keagamaan atau keyakinan tertentu. Usaha olah jiwa yang melampaui batas, merobek sekat-sekat aturan buatan manusia.
Sang mahakarya agung menjadi saksi.


LEMBARAN VIII

SAMARNYA HALIMUN KOPENG


Saudara-saudara Terkasih,
Putera-Putera Yesus Sang Maha Adil!

Ketika gaung Reformasi digemakan
Ketika slogan kebebasan dan keterbukaan diteriakkan
Ketika jargon demokratisasi deras diluncurkan
Ada secercah harapan tampil di dalam sanubari seluruh anak bangsa negeri ini yang mencoba berpijak pada kebenaran dan keadilan. Termasuk kami, yang walaupun kecil, mencoba untuk peduli dan bersuara. Suara keadilan. Suara kebenaran.
Apalagi realita yang kami dapati ternyatalah bahwa kebebasan, keterbukaan, keadilan, kesetaraan hanya omong belaka! Dikemas dalam bahasa-bahasa manis! Bahasa penguasa!
Saat ini dan entah sampai kapan,
Harga-harga kebutuhan kian melambung
Koruptor-koruptor psikopat masih bebas berkeliaran
Rakyat kecil masih akrab dengan penindasan
Presi kaum kuasa masih kerap dipakai
Ditambah .....
Muka-muka baru kaum kuasa justru mewarisi pendahulunya, hanya senang menumpuk harta!
Konglomerasi sama saja masih bertebaran di sana-sini
Manipulasi, suap-menyuap dan rekan sejawatnya malah jadi agenda harian para kuasa!

Untuk itu, kami ajak semua yang masih punya nurani bersih untuk BERSIKAP,
Menggemakan suara kenabian sejalan dengan yang ditulis CANAAN BANANA :
PENGAKUAN IMAN RAKYAT
Aku percaya kepada ALLAH yang tidak buta warna
Aku percaya kepada YESUS KRISTUS
Lahir dari seorang perempuan biasa
Yang diejek, dicederai, dan diadili
Yang bangkit pada hari yang ketiga dan memukul kembali
IA menyerbu sidang-sidang dewan pertimbangan agung
Tempat IA menggulingkan pemerintahan yang dengan tangan besi mempertahankan ketidakadilan
Mulai sekarang IA akan melanjutkan peradilan
Terhadap kebencian dan keangkuhan orang
Aku percaya kepada ROH pendamaian
TUBUH yang mempersatukan orang-orang miskin
Kuasa yang mengalahkan kebengisan yang ada dlam diri manusia
Kebangkitan dari perikemanusiaan, keadilan, serta persamaan
Dan kemenangan terakhir persaudaraan
Pdt. CANAAN BANANA
Teolog dari Zimbabwe

Maka agar selebaran ini tidak ikut-ikutan hanya menjadi selembar kertas penuh retorika bombastis!
Perlu dilanjutkan dengan AKSI !!!!
Ya .... AKSI yang menyuarakan suara KENABIAN

DAN ....
Atas nama HATI NURANI BERSIH, kami undang siapa saja yang masih punya PEDULI untuk hadir dalam
AKSI KEPRIHATINAN DAN UNJUK SOLIDARITAS
Jumat, 25 Nopember
14.00 WIB
Di Bundaran Air Mancur
DATANG !!!!
Dan jadilah MANUSIA berhati nurani, PEDULI SESAMA !!!!!!

F A T S
FRONT ANAK TERANG SEMARANG

Tersenyum BimBim setelah selesai membaca selebaran dihadapannya, “Binsar ....! Binsar ....! Kamu tidak pernah berubah! Selalu bergelora, apalagi jika nyangkut masalah mengkritisi kesewenang-wenangan di depan mata!”
“Seperti apa ya Demo siang tadi? Jujur aku agak khawatir dengan selebaran ini!” Geleng-geleng kepala BimBim mencoba menyimak lebih teliti lagi deretan huruf-huruf dalam selebaran itu.
“Gila! Kamu nekat sekali Binsar! Tulisanmu ini sangat sangat provokatif dan terlebih lagi kental sekali warna sektariannya!” Tiba-tiba BimBim merasa sangat gelisah, menyadari bakal terjadi sesuatu terhadap Binsar dan teman-teman aktivis lainnya.
“Jujur, ini bukan gaya kamu yang biasa! Memang mana ada aktivis yang gak kenal Binsar, SANG HARIMAU AKSI! Tapi selain garang kamu juga tidak ceroboh!” BimBim masih keheranan akan sesuatu yang menurutnya ganjil dan bisa berakibat fatal bagi Binsar ini. Terbayang bagaiman Binsar, anak Medan sahabat karib Hananto almarhum, adalah motor penggerak penuh gelora sekaligus juga penuh perhitungan cermat dalam setiap aksi turun ke jalan yang dilakukan.
Binsar adalah aktivis mahasiswa yang tidak berprinsip ‘pokoknya demo’, dia selalu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, mulai dari banyak membaca, mendengar, dan melihat seputar isu-isu yang akan diangkat. Kemudian juga mempersiapkan skenario-skenario aksi di lapangan, skenario yang tidak hanya tunggal namun juga dipersiapkan ‘plan B’, bahkan sampai ‘plan C’ untuk keadaan darurat atau tak terduga. Binsar juga mempersiapkan bahan argumen untuk ‘lobby’ dengan pihak berwenang atau aparat. Singkat kata semua coba dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, termasuk juga dengan menghindari pemakaian kata-kata atau slogan-slogan, baik dalam orasi atau juga selebaran, yang menjurus pada provokasi asal-asalan dan berbau anarkis dan memojokkan pihak-pihak tertentu.
Tapi ini ...
“Pasti ada ‘sesuatu’ dalam aksi kali ini, dan Binsar nampaknya agak lengah! Mungkin ia masih terbawa emosi akibat berita rumah kontrakan Benjamin dan kawan-kawan di Purwokerto diobrak-abrik sekelompok massa tak dikenal beberapa hari lalu.”
“Bapa! Tolong temanku satu itu! Biarpun untuk urusan demo, aku dan Binsar sepakat untuk tidak pernah sepakat dalam hal cara dan model yang dipakai, namun Binsar adalah seorang pejuang tangguh dan orang paling konsisten dalam memegang prinsip yang aku kenal, sekaligus juga teman diskusi yang agresif dan menghibur! Please .... lindungi dia ya Bapa!” BimBim merasa prihatin membaca gelagat tidak baik yang akan menimpa Binsar. Intuisi dan logikanya berkata dalam satu benang merah, bahwa aksi demo kemarin siang kemungkinan besar akan bermasalah!
SELEBARAN yang bukan hanya kental nuansa provokasi sektarianisme! Lebih dari itu juga masuk terlalu jauh ke dalam wilayah ‘rawan’, wilayah FUNDAMENTALISME yang disodorkan secara serampangan! Asal tembak!
Binsar dalam BAHAYA besar!
Anak-anak Wisma dalam INCARAN!
Pergerakan telah memasuki areal yang bukan semestinya!
Dan BimBim percaya akan penangkapan mata batinnya. Mata batin yang seringkali tajam melihat yang tidak kasat mata. Mata batin yang kuat dalam panggraita deneng sasmita. Mata batin yang mungkin memang dianugerahi oleh Yang Maha Kuasa untuk cepat melihat gelagat tidak baik dari hal-hal yang tidak terlihat.
BimBim beranjak dari tempatnya duduk, di sebuah anak tangga bagian depan rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu jati dan beratap genteng merah. Pikirannya gelisah emikirkan apa yang bakal terjadi dengan teman-temannya nun berjarak puluhan kilometer dari tempatnya berada sekarang. Ia beringsut pindah ke sbuah kursi panjang di teras depan rumah panggung itu, rumah di mana dirinya hadir pertama kali ke dunia ini, rumah masa kanak-kanaknya sampai saatnya menjadi ‘anak rantau’ di Semarang begitu memasuki masa pendidikan menengah atas, rumah milik kedua orangtuanya tercinta
Setelah menyeruput kopi hitam yang sudah lama menjadi dingin, BimBim berniat mengambil kotak sigaret yang tergeletak tidak jauh dari gelas kopi yang baru saja diminumnya. Namun tiba-tiba diurungkan niatnya itu, ia teringat janjijnya pada Cah Ayu untuk mencoba berhenti menghisap sumber nikotin dan tar itu dengan terlebih dahulu menguranginya sedikit demi sedikit.
“Sebaiknya aku berangkat ke Ambarawa sekarang untuk menemui Cah Ayu! Terlebih dahulu aku mampir ke Wartel-nya Mbak Santi di Pasar Sapi, ngecek kondisi Binsar dan kawan-kawan di Semarang!” Batin BimBim mempercepat dua jam lebih awal dari rencana semula kepergiannya dari rumah hari ini.

# # #

Dibaca ulang dua lembar surat yang telah dipersiapkan BimBim sejak tadi malam,
Kopeng, 26 Nopember 2005
Salam dalam kasih Yesus Kristus juru selamat kita semua,
Bapak,
Pertama kali BimBim mohon maaf karena memberikan keputusan tidak secara langsung melainkan melalui lembaran-lembaran kertas ini. Kemudian, permohonan maaf BimBim yang kedua yang menjadi initi dari surat ini adalah karena pada akhirnya anak Bapak ini tidak menaati permintaan atau kemauan Bapak.
Pak, BimBim telah putuskan bahwa BimBim tetap akan melanjutkan rencana untuk menikah dengan Mitha! BimBim sangat paham betapa akan kecewanya Bapak mendapatkan kenyataan bahwa anak laki-laki satu-satunya di keluarga Nitidisastro, yang notabene Bapak gadhang-gadhang sedari kecil malah tidak memtuhi keinginan Bapak.
Lebih dari itu, BimBim bangga memiliki orang tua seperti Bapak, yang secara terbuka menyatakan ketidaksetujuan akan rencana BimBim namun tetap menjunjung tinggi demokrasi dalam keluarga. Di balik ketidaksetujuan Bapak mengenai rencana BimBim, karena pasti akan dipertanyakan banyak orang dan terlebih lagi bakal jadi bahan omongan, Bapak tetap menghormati sikap BimBim dan akan memberikan restu karena pada dasarnya Bapak tahu BimBim berniat baik.
Satu hal yang menjadi dasar utama Bapak keberatan jika BimBim tetap pada rencana, adalah bahwa terdapat kemungkinan yang tidak kecil pada akhirnya BimBim akan bercerai dengan Mitha karena memang jika Mitha tidak mencintai BimBim pernikahan ini hanya akan menyelamatkan si kecil calon kehidupan baru dari lahir tanpa ayah. PERCERAIAN, kecuali karena kematian, adalah hal yang tidak dapat Bapak tolerir. Untuk itu, tidak akan ada restu jika BimBim bercerai dan juga tidak akan ada restu kedua jika BimBim menikah lagi. BimBim sangat menghargai sikap Bapak tersebut! Dan BimBim akan menerima konsekwensi apapun itu yang akan BimBim terima.
Terima kasih atas semuanya.
Bapak,
Untuk selanjutnya BimBim akan menuruti saran Bapak agar melangsungkan pernikahan di tempat Paklik Budi yang pendeta di Wonosobo. Waktu pastinya akan BimBim kabari nanti, BimBim minta dukungan doa dari Bapak dan keluarga di sini.

Ibu,
Ibu adalah orang berhati tulus yang pernah BimBim miliki! Syukur pada Yesus bahwa BimBim memiliki Ibu! Ibulah yang tiada pernah lelah memberikan pemahaman kepada Bapak akan kekuatan yang bernama CINTA.
Bapak yang teguh memegang prinsip bahwa nama baik keluarga adalah yang terutama. Bapak yang keras pendiriannya. Dan Bimbim, anakmu ini, yang khas gaya anak muda sok pahlawan, mencoba untuk bersikap dan berlaku seturut yang dianggapnya benar. Dua buah kutub sama-sama keras kepala mampu Ibu jembatani dengan baik.
Terima kasih Ibu.

Mbak Santi,
Terima kasih atas pengertiannya untuk BimBim ‘langkahi’, walaupun Mbak Santi tahu betul konsekwensinya, apalagi dalam kehidupan masyarakat penuh mitos dan kepercayaan peninggalan nenek moyang ini. Mbak Santi pasti jadi bahan gunjingan, gosip, selentingan, dan lain-lain akibat pernikahan BimBim yang lebih dulu dari Mbak Santi. Namun, Mbak Santi meremehkan semua itu demi niat adikmu ini.
Sekali lagi terima kasih Mbak Santi.

Maka ..... Bapak, Ibu, Mbak Santi,
Maafkan BimBim yang egois ini dan BimBim mohon selalu sertai dengan doa agar BimBim senantiasa melangkah dengan benar.
Semoga Tuhan kita Yesus Kristus selalu menaungi kita semua dengan limpahan kasih karuniaNya. Amin.

Salam hormat dan kasih
Yohanes Haryo Bimo Wicaksono
BimBim melipat lembaran kertas yang sarat dengan rangkaian aksara itu perlahan-lahan, kemudian sejenak memejamkan mata dan menarik napas panjang, ia memasukkan lembaran sang pembawa pesan ke dalam amplop dan meletakkannya di atas meja belajar di kamarnya. Setelah berdiri mematung sejenak memandang kayu salib dinding dari bambu buatannya sendiri, BimBim melangkah keluar kamar dan terus berjalan menuju pintu keluar utama griya bersahaja yang ia yakin akan selalu dirindukannya nanti.
Maka .... melesatlah anak panah dari busurnya!

# # #

Kabut masih menyelimuti kaki-kaki Gunung Merbabu pagi ini. Sementara sang surya di ufuk timur nampaknya masih malu-malu memncarkan sinarnya ke wilayah dataran tinggi bernama Kopeng ini, padahal jarum jam sudah menunjukkan posisi tegak lurus antara jarum panjang dan jarum pendeknya.
Sementara, tapak-tapak kaki laki-laki muda usia ini melangkah lambat-lambat menyusuri jalan setapak yang di sisi kiri dan kanannya melulu dipenuhi himpunan tanaman wortel dan tomat. Tak lama berselang, setelah tiba di saung kecil di tengah-tengah hamparan perkebunan itu, BimBim sang pemilik tapak kaki berhenti, mengambil sigaret, menyalakannya, dan kemudian menghisapnya dalam-dalam.
“Cah Ayu, maafkan ....! Aku kepengin banget merokok sekarang! Ada perasaan tidak enak seperti akan ada badai menghampiri! Cah Ayu, aku gelisah sekali saat ini!”
“Ah .... mungkin ini hanya perasaan jelekku saja! Perasaan-perasaan yang timbul akibat pikiran berkecamuk dengan macam-macam hal! Tuhan ... tolong tenagkan aku! Aku harus menemui Cah Ayu di Ambarawa sekarang! Itu prioritas utama saat ini!” BimBim mencoba menenangkan gejolak yang bergelora di ruang hatinya. Beberapa kali sang sigaret dihembusnya dalam-dalam sebagai ekspresi kegundahan yang sangat.
Tanpa disadari BimBim, empat orang laki-laki telah berada didekatnya. Empat orang laki-laki dengan aura tak bersahabat!
“Kalau dirimu mau selamat! Ikut kami sekarang!” Salah seorang yang mengenakan jaket kulit hitam mendekat menghampiri BimBim.
“Eh .... ada apa ini? Hehehe .... aku ini orang bebas, kawan! Aku akan melangkah kemana aku mau tanpa paksaan! Dengar itu! Sudahlah aku tidak punya uang dan tidak ada waktu buat preman-preman kunyuk seperti kalian! Jangan memulai!” BimBim yang di masa lalunya akrab dengan hal yang menjurus maut, tidak kaget lagi menghadapi ancaman di depan matnya. Ia justru kaget bahwa keempat orang itu sudah ada dihadapannya tanpa diketahui, “Dasar ceroboh! Pikiran macam-macam membuat diriku lengah!” Batin BimBim memaki dirinya sendiri.
“Anak muda! Kami tidak main-main! Dan bukan Cuma kamu, keluargamu akan HABIS! Kalau kau bertindak bodoh! Paham!” Tampaknya sang pengancam tidak mau membuang waktu lebih lama lagi, ia segera mengeluarkan benda andalan tempat keluarnya apa yang dinamakan ‘timah panas’ dalam berita-berita kriminalitas di layar kaca. Begitu pula dengan ketiga orang rekannya.
“Kalian bukan sekadar preman rupanya! Baik ... baik! Aku menyerah! Kalian tahu kelemahanku rupanya ... jangan libatkan keluargaku, mengerti!” BimBim meyerah dan seketika itu juga ia menangkap gelagat bahwa hal yang tengah dialaminya ini adalah rentetan reaksi dari aksi Binsar dan teman-temannya di Semarang sana. Bahaya yang dirasakannya terbukti sudah.
“Ikut kami!” Sang laki-laki berambut pendek dua sentian dan berperawakan tegap itu tersenyum puas korbannya tidak berdaya, dan segera mencengkram tangan BimBim, mengikatnya dengan borgol, dan menyeret Bimbim meninggalkan tempat yang sudah mulai agak terang akibat kabut yang berkurang.
Tak lama kemudian, mereka tiba di penghujung jalan setapak yang langsung berlintasan dengan jalan raya Kopeng, sang laki-laki yang rupanya adalah pemimpin dari ketiga orang lainnya lagi memerintahkan untuk berhenti, “Stop! Pakai ini, cepat!” Dia mengenakan penutup kepala berwarna hitam pada BimBim.
“Ganda! Siapkan mobil! Yang lain tetap siaga!”
“Siap ...!” Ketiga orang bawahan yang sedari tadi diam, akhirnya mengeluarkan suara dan melaksanakan tugas yang diperintahkan pada diri mereka masing-masing.
Sesaat kemudian Ganda telah kembali, “Mobil siap Pak! Tinggal menunggu perintah selanjutnya!”
“Baik! Berangkat sekarang!”
“Siap Pak!”

# # #

BimBim tertunduk lemas menyadari apa yang terjadi, “Cah Ayu, bagaimana ini? Aku toh harus menuruti mereka agar dapat tetap hidup untuk akhirnya menyingkap tabir ini! Dan terutama untuk dapat mendampingi Cah Ayu menapaki perjalanan panjang kehidupan!”
“Cah Ayu .... maafkan masmu ini terpaksa ingkar janji! Ada badai antara yang harus dilalui terlebih dahulu ternyata! Tabahlah Cah Ayu! Tuhan, bimbing kami berdua!” Prihatin BimBim memikirkan kekasih hatinya akan menghadapi ujian untuk kesekian kalinya, sedangkan dirinya tiada daya merobek singkap di depannya.
Malka ada halimun samar nan pekat di Kopeng pagi ini.

Selasa, 03 Februari 2009

AKU MEMILIH MAKA AKU ADA

LEMBARAN V

SEMARANG KOTA ATLAS


Dua minggu sebelumnya .........

Gerimis kecil mengguyur pinggiran Ibukota Propinsi Jawa Tengah, gerimis yang sedari siang tadi seakan enggan berkompromi dengan terus-menerus datang dan pergi meneteskan titik-titik air di atas permukaan bumi pinggiran kota –yang dinamakan Banyumanik. Sementara arus jalan raya dari dan ke arah Kota Semarang seakan tak terpengaruh dengan kondisi alam sore ini, berbagai jenis kendaraan bermotor silih berganti melintasi jalan aspal hitam pekat bergelombang.
Seorang anak muda tampak sedang berteduh di sebuah warung kecil yang sedang tutup. Kedua tangannya bersedekap di dada memeluk erat sebuah kantong plastik hitam.
“Mimit! Sabar dulu ya, Masmu ini tidak bisa cepat-cepat memberikan kelengkeng permintaanmu.” Gumam pemuda tadi sambil tatapan matanya menerawang ke atas.
“Kondisi rem belakang ‘Si Kancil’ tidak memungkinkan jalan dalam cuaca hujan begini!” Tatapan matanya segera beralih pada sepeda motor yang diparkir di sampingnya.
“Hai Kancil! Sori ya, juraganmu ini belum bisa bawa kamu ke salon langgananmu alias bengkelnya Si Toni.” Laki-laki tampan dengan tinggi 174 cm ini menarik napas panjang.
“Sabar dulu ya Bro! Sebentar lagi kamu bakalan punya juragan kecil ..... so, anggaran ke salon dikurangi dulu oke!” Tangan kirinya memegangi sisi atas jok motor berwarna hitam milik ‘Si Kancil’.
“Kancil .... Kancil! Kamu memang tunggangan yang setia! Hampir-hampir gak pernah protes sama juraganmu ini ....”
“Ya ... 3 tahun lebih kamu nemenin Hananto Adi Wibowo, si juragan Cinamu hehehe! Dari mulai malam-malam panjang di jalanan .....” Pikiran sang juragan bercengkrama dengan tunggangannya melayang ke masa silam.
“Waktu itu .... kamu juga yang bikin nama Hanan tenar seantero anak-anak motor jalanan Semarang! Urusan tancap gas di jalanan serahkan aja sama Hanan dan Kancil-nya dijamin gak bakalan ada yang nandingin!” Tangan kirinya berpindah mengibaskan rambut pendek lurus yang basah terkena tetesan air hujan.
“Ya .... dengan style kepala plontos, kuping tindikan, jaket kulit hitam, apalagi ditambah congyang ..... soal ngebut habis perkara! Siapa aja aku ladeni!” Senyum tersungging di bibir tipisnya, setipis garis mata layaknya orang-orang berdarah ‘keturunan’.
“Hmmmhh .... aksi gila-gilan demi mendapatkan eksistensi diri, demi pengakuan biar lebih dianggap! Hahaha .... Hanan ..... Hanan! Untung gak mati konyol lu orang hanya demi pengakuan semu!”
“Yah ..... sampai masa pencerahan itu datang! The Enlightmen Era has Come! Ketika aku ‘ditemuin’ sama BimBim, Si Biang Kampret itu! Juga akhirnya ketemu Mimit! Kedua orang itulah yang membuat mataku ‘melek’ en bangun dari tidur indahku selama ini.” Diletakkan kantong plastik, berisi dua kilogram kelengkeng yang sedari tadi dipeluknya, di atas jok ‘Si Kancil’ dan segera tangan kanannya bergerak memegang sebuah bandul kalung berbentuk crufix terbuat dari platina murni di lehernya.
“Thanks Jesus! Engkau memang penuh dengan cara-cara ajaib dalam menuntun insan-insan liar serba salah jalan, seperti aku ini! Gak akan pernah aku lupakan bagaimana Engkau selamatkan aku lewat Si Biang Kampret itu, Biang Kampret yang berhati mulia .....” Tangannya kini menggenggam erat Salib kecil yang selalu menghiasi leher jenjangnya itu, dan menciumnya erat-erat.
“Ya .... hampir saja aku ‘habis’ dimassa alias diamuk orang-orang satu Simpang Lima gara-gara adu kebut dan nyerempet seorang ibu penjual nasi liwet di sana. Dan BimBim-lah yang menenangkan emosi massa serta membawaku keluar dari kemelut yang bisa berakibat fatal bagi diriku ... hmmmhh!”
“Ini! Minum tehnya dulu biar agak tenangan sedikit! Eh .... kalo gak salah kamu anak Ekonomi kan?” Tanya BimBim kala itu setelah mengajakku ke tempat ibu asuhnya berjualan di salah satu sudut tempat paling terkenal di Semarang. Ya, Semarang memang identik dengan Simpang Lima, sebuah tanah lapang yang sebenarnya bernama Lapangan Pancasila yang dikelilingi oleh lima buah ruas jalan serta pusat-pusat pertokoan dan sebuah Masjid besar.
“Iya benar! Aku memang kuliah di Fakultas Ekonomi, kok kamu tahu? Dan makasih ya .... buat bantuan dan teh angetnya!”
“Never mind guys! Gak usah dipikirin! Aku BimBim! Anak Sastra! Motormu itu lho yang buat aku tahu kalo kamu anak Ekonomi!”
“Oh ..... begitu, aku Hanan. Wah ternyata ‘Si Kancil’ ini terkenal juga sampai ke Sastra ya?” Aku terkesan sama keramahannya yang tulus.
“Gimana gak terkenal! Wong kalo lewat depan Sastra motor serba hitam polos ini pasti ngebut ¬edan-edanan! Hahaha .....”
“Aduh .... jadi gak enak body ...... terkenal gara-gara ugal-ugalan!”
“Jujur ..... sempat keki juga sih! Waktu acara MOMB tempo hari, motor kamu itu nyaris nyenggol barisan MABA yang lagi antri di gerbang, masih ingat buddy?” Ada senyum penuh arti terlihat dari bibir BimBim.
“Maaf .... maaf! Yah aku ingat banget! Kejadian konyol yang bikin aku diteriakin orang banyak!” Entah mengapa ada penyesalan begitu mendalam ketika aku sadari bahwa ulahku selama ini membuat kesal dan merugikan banyak orang.
Semenjak kejadian di Simpang Lima itu aku semakin dekat dengan BimBim, dan berkat dia pula aku mulai meninggalkan dunia kebut maut jalanan. Aku mulai masuk ke dunia yang sebelumnya sama sekali asing buat seorang Hanan, ya .... dunia kegiatan kerohanian! Sedikit demi sedikit aku mulai akrab dengan yang namanya Persekutuan, ‘Jumatan’, sharing, panitia Natal atau Paskah, Retreat, Bible Camp, Live In, dan lain-lain. Dunia yang ternyata membuat hidup ini menjadi lebih berarti dan dunia di mana aktualisasi serta eksistensi murni aku dapatkan setelah sekian lama aku cari di tempat yang salah.
BimBim pula yang mengenalkan aku dengan Si Mimit, kekasih sejatiku, yang juga dengan sabar dan setia mendampingi proses penyadaranku. Walaupun ternyata sisa-sisa keliaranku masih ada, sehingga aku menyeret Mimit bergelut dalam permasalahan sekarang ini.
Ya, kedekatanku dengan Mimit membawa kami terjebak ke dalam kenikmatan sesaat yang menjebloskan kami ke dalam lubang gelap dan sempit. Kemesraan kasih sayang antara Si Hanan ini dengan Mimit pada akhirnya melampaui batas-batas semestinya ... dan hasilnya sebentar lagi akan hadir juragan kecil yang tercipta di luar ikatan resmi. Badai yang mau tidak mau, suka tidak suka harus dihadapi sampai ke kedalamannya.
Lamunan Hanan terhenti ketika dirinya tersadar bahwa kekasih hatinya tengah menunggu kelengkeng Ambarawa di tempat kos-nya, ia mengeluhkan rintik-rintik hujan yang belum juga mau menghentikan aktivitasnya bermain-main meluncur turun dari langit menuju bumi bagian selatan Kota Atlas ini.
“Mimit sayang! Aku yakin kamu pasti sabar menunggu kedatanganku! Karena kamu adalah orang yang paling sabar sedunia!”
Tersenyum Hanan saat lamunannya terlempar pada masa-masa indah kebersamaan antara dirinya dengan Mimit, sang kekasih. Saat-saat menyusuri Kota Atlas ditemani oleh ‘Si Kancil’ yang setia, saat terendam dan terjebak banjir di Bundaran Jalan cendrawasih sampai-sampai ‘Si Kancil’ menyerah tidak bisa jalan, saat kongkow di Papandayan atau di Taman Tabanas tepat di tengah Tanjakan Gombel hanya untuk melihat indahnya pemandangan gemerlap Kota Atlas di malam hari dari atas.
“Ah..... sayang! Di depan Taman Tabanas sekarang udah jadi restoran! Yah .... memang para investor adalah orang paling jeli melihat peluang mengeruk keuntungan!” Kembali Hanan bercakap-cakap dengan dirinya sendiri.
“So ..... sekarang kalo mau melihat pemandangan di sana otomatis harus mengeluarkan uang sekadar membeli hidangan yang disediakan! Sebentuk eksploitasi terhadap fenomena alam yang kalau kata Mimit serupa dengan di daerah Puncak, Bogor sana!”
Hanan kembali mengurai kenangan-kenangan masa lalu dalam lamunannya, yang kalau lamunan seseorang dapat digambarkan secara visual, maka akan terlihat jelas sisi-sisi Kota Atlas dalam benak Hanan. Mulai dari bagaimana dua sejoli penuh kemesraan dengan berteman kendaraan roda dua serba hitam pekat itu menyusuri Jalan Hayam Wuruk yang terkenal dengan deretan kafe-kafe mini kelas mahasiswanya, kemudian melewati Imam Bardjo, berbelok ke kanan masuk ke Pahlawan Boulevard, begitu BimBim biasa menyebut, yang penuh dengan warung-warung tenda dari mulai Bundaran Air Mancur UNDIP sampai ke Simpang Lima, baik di sisi kanan maupun sisi kiri jalan protokol itu.
Pasangan muda itu masih terus bergerak, setelah masuk Simpang Lima berbelok ke kiri ke Jalan Pandanaran terus ke barat melewati Tugu Muda dengan Lawang Sewu dan Gereja Katedral-nya, kemudian melintasi Jembatan Banjir Kanal Barat. Mereka berhenti sejenak karena terkena lampu merah setelah melewati Pasar Karang Ayu, dan perjalanan berlanjut dengan berbelok ke kanan terus memasuki kawasan Perumahan Puri Anjasmoro, salah satu perumahan elit di Kota Atlas ini, dan akhirnya ‘Si Kancil’ berhenti di parkiran Puri Maerokoco alias Taman Mini Indonesia Indah versi Jawa Tengah. Puri Maerokoco adalah sebuah obyek wisata di Kota Atlas yang mencoba mengabadikan kekhasan seluruh Kabupaten dan Kota Madya di Propinsi Jawa Tengah yang masing-masing diwakili oleh bentuk-bentuk rumah khas daerahnya. Terlepas dari kesan yang kuat akan plagiat dari TMII, usaha Pemerintah Daerah yang patut dihargai karena paling tidak ada tindakan riil untuk melestarikan warisan-warisan sosial budaya masing-masing daerah yang ada di Jawa Tengah. Sebuah langkah yang sepertinya perlu diikuti oleh propinsi-propinsi lain di negeri Nusantara ini, tentunya dengan kreativitas masing-masing.
Kehangatan seakan tak pernah lepas dari diri Hanan dan Mimit dalam acara tur imajiner mengelilingi Jawa Tengah itu. Sampai saatnya turun hujan deras secara mendadak sehingga acara tur terhenti dan mereka terpaksa berteduh, kemudian terpaksa hujan-hujanan melangkah keluar karena Sang Miniatur sudah saatnya beristirahat, dan akhirnya terpaksa bermalam di tempat kerabat Hanan di Puri Anjasmoro karena hujan deras masih saja mengguyur dan banjir mulai menggenang, rentetan kejadian yang pada puncaknya membuat mereka mereguk kenikmatan duniawi terlalu cepat pada saat yang semestinya belum waktunya. Maka terjadilah apa yang telah terjadi!

# # #
“Han..... ! Sudah dua bulan ini siklusku tidak pernah datang ..... aku .... aku takut jangan-jangan ...... ! Ah, semoga saja gak benar! Iya kan Han?” Kepanikan yang sangat mengiringi perkataan lirih Mitha.
“Baik ..... baik! Mimit tenang dulu .... kita ke dokter aja ya untuk lebih memastikan! Cuma, kamu minum dulu ya!”
“Iya ...Han! Maafin aku ya, abis aku panik banget ... takut kalau aku .... ah ..... !” Derai isak tangis melanjutkan kekalutan yang tak tuntas terkatakan.
“Aku ngerti sayang! .... Tapi sekarang jangan mikir macam-macam dulu ya ... kamu minum dulu, setelah itu kita berangkat ke dokter!” Hanan mencoba menenangkan kekasihnya dan menyodorkan gelas berisi air putih yang disuguhkan Mitha untuknya.
“Makasih ya Han!”

# # #

“Selamat! Bapak! Ibu! Sebentar lagi akan hadir buah hati Anda berdua! Sekarang usianya baru sekitar satu setengah bulan. Mulai dari sekarang dijaga kondisinya ya Bu!” Dokter menyalami Hanan dan Mitha yang masih terhenyak kaget bukan kepalang mendengar ucapan selamat itu. Ucapan selamat yang lebih merupakan petir di siang bolong bagi mereka berdua.
“Ba... ik! Baik! Terima kasih Dok! Cuma apa memang sudah benar-benar positif Dok?” Hanan seakan belum percaya akan kenyataan yang dialaminya untuk menjadi seorang calon ayah.
“Absolutely right! Hasil Lab menunjukkan Positif!”
“Kalau .... begitu kami pamit dulu Dok! Terima kasih atas bantuannya!”
“Silakan! Jangan lupa untuk tetap menjaga kondisi ya Bu! Dan Bapak juga harus ikut membantu Ibu untuk menjaga si kecil ya!”
Hanan segera mengangguk dan menggandeng Mitha yang tidak bisa menahan tangis untuk melangkah keluar ruang pemeriksaan.

# # #

“Huh ...!” Hanan meninju papan warung tempatnya berteduh, ada emosi dan penyesalan mendalam coba disalurkan keluar melalui kepalan Hanan.
“Aku tahu penyesalan gak ada gunanya, namun setiap aku teringat kembali masa-masa badai itu .... selalu sesal berkepanjangan hadir dalam batin ini!”
“Oh .... God! Engkau ternyata memang tidak pernah meninggalkan anak-anakMu! Hanya seringkali manusia saja yang tidak menyadarinya! Aku ingat persis bagaimana masa-masa kegelapan setelah ‘kejadian’ itu justru nyaris berakibat lebih buruk lagi.
Aku yang gak bisa menerima kenyataan malah menjadi gelap mata mencari pembenaran dan pelampiasan, kembali ke duniaku yang lama hanya sekadar untuk berlari. Dan kembali Si Biang Kampret itu jadi penyelamatku, the savior yang gak pernah lelah mengangkatku dari lubang kehancuran!
Hahaha .... aku pasti gak akan pernah lupa! Biang Kampret itu bahkan gak segan-segan menghajarku yang ternyata setelah aku sadari sikapnya yang begitu adalah demi kebaikanku sendiri dan Mimit ‘adiknya’ tentu saja. Dia memang kenal betul watakku yang gak akan ‘masuk’ dengan kata-kata penghiburan dan lemah lembut namun hanya sekadar kata-kata. Dia tahu persis akan lebih mengena untuk menyadarkanku dengan kata-kata pedas penuh tantangan, dan bila perlu dengan hantaman tangan-tendangan kaki demi untuk memancing supaya emosiku keluar yang pada akhirnya akan membuat pikiran dan hatiku menjadi terbuka.”
“Yah ... sikap keras BimBim yang tadinya aku kira karena dia benci dan gak akan mau memaafkan ulahku, justru bertolak dari niatnya untuk memaafkan dan mengangkatku dari kemelut yang mendera. Dia memang kecewa, dan itu pasti!
Niat tulus yang jelas tergambar dari tidak pernah lelahnya Si Biang kampret itu ngedampingi sampai-sampai dirinya rela meninggalkan sebagian besar kegiatan organisasinya hanya demi menyadarkanku.”
“Tuhan! Aku baru sadari sekarang bahwa Engkau memang selalu menciptakan orang seperti Si Biang Kampret yang selalu hadir demi orang lain, terima kasih Tuhan!” Hanan memejamkan matanya demi menahan tetesan air bening yang bukan air hujan keluar dari sepasang netra miliknya sebagai wujud keharuan mendalam.
“Ah .... aku sudah terlalu lama di sini! Kasihan Mimit nunggu dari tadi” Hanan bersiap-siap meneruskan perjalanan ke tempat kos belahan hatinya.
“Ya ... aku harus jalan sekarang! Kancil! Kita pelan-pelan aja ya, come on let’s go babe!”

# # #

“Halo .... selamat malam! BimBim ada?”
“Iya ... saya sendiri! Ini Binsar? Eh .... tumben lo Batak Betawi hahaha ...! Ngapain Bin ....?”
“Bim .... bad news my friend ...! Si ....”
“Apaan ...? Oh .... Demo minggu depan kecium aparat? Tenang ... gak usah ...”
“Eh ... Kampret! Denger dulu .... en jangan motong-motong omongan orang!” Nada di seberang terdengar meninggi, dan BimBim tahu ada nada serius di sana, dia memilih diam!”
“Sekarang dengerin baik-baik! Teman kita Hananto kecelakaan! Si ‘Kancil’ disikat mobil di Jatingaleh ... en ....” Pembicaraan terputus.
BimBim memilih untuk tetap diam, “Han tabrakan! Binsar yang jadi cepat naik darah! Bad news ...! Alamat gak beres nih!” Firasat buruk segera terlintas di benak BimBim ....
“Bim! Han kita, Si Sembalap! Udah pergi, Bim! Pergi .... buat selamanya! Elo ngerti Bim?”
BimBim masih terdiam .... “Bim! Elo baek-baek kan? Han sekarang disemayamkan di Elizabeth, Rumah Duka, gue udah di sana sekarang sama temen-temen GMKI ...!”
Kediaman masih merajai BimBim, “Bim ... tapi Mitha belom ...”
“Baik ... baik! Mitha belum dikasih kabar kan? Aku bisa ngerti kawan! Hanya kita berdua yang tahu apa yang sedang dihadapi Han, your roomy, dan Mitha!”
“He-eh Bim!”
“Mitha biar aku yang urus, oke! Cuma tolong kamu hubungi anak-anak PMKRI, kayaknya disemayamin di Wisma aja deh, di rumah sakit biayanya besar! Terus ... Om Liem yang di Magelang gimana sudah tahu belum?”
“Beres kawan! Gue sama yang lain juga berpikiran begitu en Om Liem juga udah dikasih kabar, sekarang lagi dalam perjalanan kemari!”
”Bim! Gue serahin Mitha ke elo! Cuma elo yang tahu gimana cara nyampein kabar bangsat ini ke dia!”
“Eh ... Bin! Tenang .... kalem, teman! Kita semua prihatin .... Cuma harus tetap dingin! Oke ... kamu bisa janji untuk tetap dingin?”
“Maaf Bim, gue kebawa emosi! Aku janji! Thanks!”
“Sama-sama!”
“Klik ...!”


LEMBARAN VI

DATARAN TINGGI TEMBALANG


1. 31 Juli ‘04
02.15 WIB
Di kampus setelah hari pertama MOMB,
Sebelumnya aku jarang sekali nulis-nulis kayak begini, bisa dihitung dengan jarilah.
Cuma mulai sekarang aku yakin bakal sering nulis apa ya .... diary ... kali ya .... hehehe! Tidak terbayangkan seorang BimBim jadi sentimentil kayak sekarang.
Eh .... apa iya menulis apa yang dirasakan dalam batin itu sentimentil? Mungkin ini apologi, tapi stigma cowok yang nulis diary atau sejenisnya adalah sentimentil, melankolis, atau bahkan cengeng itu ....
SALAH BESAR!
YA .... S.A.L.A.H . B.E.S.A.R.!
Coba saja, kalau label itu benar ... bagaimana dengan Kierkegaard atau Soe Hok Gie? Mereka adalah orang-orang garang dalam mengkritisi ketidakadilan disekitarnya dan selalu mencoba melandaskan diri melulu pada kebenaran, tapi mereka juga adalah manusia-manusia yang paling rajin untuk menulis catatan harian.
Huh ... stigma yang hadir sebagai bentuk gengsi, prestise, keakuan kaum laki-laki demi bisa mengangkangi perempuan! Dasar ...!
Eh .... eh .... BimBim! BimBim!
Mau nulis yang ROMANTIS masih saja terbawa IDEALIS!
Tapi asik juga istilah ROMANTISME yang IDEALIS!
Rasa berpadu dengan nalar
Hati bergandengan tangan dengan logika ....
Oke .... back to the point!
Hari ini, tepatnya kemarin siang
Ada getar menjalar
Ada rasa menjelajah
Seluruh tubuh
jiwa
aliran darah
detak jantung
semua yang bermuara
dari HATI .... !
Entah disebut apa namanya
Hanya yang pasti
Tubuh ini serasa terkena magnet
Daya tarik yang begitu kuat
Ketika ada sosok ....
apa ya kata yang tepat menyebutnya ?
Nngg ....
Ya .... A Y U
S O S O K A Y U
milik .... hmmm ....
C A H A Y U !
That’s right!
Hari ini magnet C A H A Y U
Menarikku ke dalam nirwana smarandana
Tuhan .... ! Terima kasih!
Ternyata aku masih bisa punya rasa SAYANG!

2. 31 Agustus ‘04
19.30 WIB
Cah Ayu,
Terima kasih buat kiriman SMS-nya!
Jujur .... !
SMS paling berkesan yang pernah aku dapatkan!
Gimana nggak!
SMS ucapan selamat on my birthday beserta sebentuk doa dari Cah Ayu .... ya dari Cah Ayu .......... wow!
310804 07.02
dari Cah Ayu
I pray to God to
o +
,L.
,.J ll

BLESS
You

GUIDE
You

SAVE
You

Give you

PEACE
JOY

and

happines. Zhu Ni
ShengRe KuaiLe
Sempet bingung juga sama gambar dan baris terakhir yang pakai bahasa negeri-nya Jacky Chan.

17. 23 Pebruari ‘05
12.50 WIB
Cah Ayu,
Matek Aku! Seorang Hananto barusan curhat sama aku kalau dia sayang sama Cah Ayu!
Petir di siang bolong
Badai Tsunami
Rasanya tak mampu menandingi
Gemuruh rasa ini!
Hananto, adik pendampinganku, seperti juga Cah Ayu
Adalah sekaligus rivalku!
Heh ..... aku gak boleh begini!
Maafkan aku ya Bapa!
Ampuni aku ya Yesus!
Aku gak boleh mengacaukan
Aku gak boleh mencampur aduk
Tanggung jawab pendampingan
Tanggung jawab pelayanan
Pelayanan is pelayanan
Apalagi, aku tahu persis, Han, arek Magelang sebatang kara itu, adalah orang baik hati.
Soal back ground-nya di masa lalu yang suka ugal-ugalan di jalan sama ‘Si Kancil’ kesayangannya tidak masalah .... karena aku ....
Aku bahkan lebih bajingan daripada sekadar kebut-kebutan!
Cah Ayu,
Cinta adalah melepaskan!
Bapa, bimbing aku!
Supaya selalu bisa tempatkan
Rasa dan pelayanan
Pada tempatnya
Pada yang semestinya

# # #

“Jadi .... Mas BimBim! Selama ini Mas BimBim .....”
“Mitha ....! Tadi Mitha sudah janji kan, boleh kasih comment kalau sudah selesai baca semua, iya kan?”
“Iya .... Mas, maaf aku ketelepasan! Aku terusin bacanya ya Mas BimBim?”
“Oke .... aku juga masih senang melihat pemandangan dari sini, Cuma anginnya kencang banget. So .... kalau Mitha kedinginan kita turun aja yuk!”
“Jangan Mas BimBim .... aku gak papa kok! Kan ada jaket Mas BimBim! Lagian ini tempat favorit Mas BimBim yang dari dulu Mas BimBim pengen ajak aku kesini dan baru kesampaian sekarang!”
Terpaan angin kencang terus menerpa keberadaan dua orang anak muda itu, seakan menderu-derunya angin adalah ungkapam protes alam supaya mereka lalu dari tempat ini. Sepertinya alam berteriak, “Jangan-jangan kalian seperti yang lain! Hanya menodai tempat ini dengan tulisan-tulisan di batu dan batang-batang pohon atau membuang sampah seenaknya!”
Alam salah satu titik di puncak deretan perbukitan Tembalang ini memang pantas ‘berdemo’ menentang ulah tangan-tangan jahil yang merusak keaslian dan keindahannya. Ya ... tempat favorit sang aktivis kampus itu, memang bisa dikatakan Grand Canyon-nya Semarang. Sebuah tempat berupa bibir jurang yang kalau kita menghadap dan melayangkan pandang ke depan hanya akan didapati melulu deretan bukit-bukit nan elok dan eksotis.
Kali pertama BimBim menemukan tempat indah buatan alam ini, dirinya tak habis-habis terkagum-kagum, “Hei ... ternyata ada juga tempat begini bagus nan alami di Semarang! Kontras dengan hiruk pikuk Ibukota Jawa Tengah di ‘bawah’ sana!” Pikirannya menerjang menikmati fenomena alam yang baru saja didapatinya, laksana seorang anak kecil yang mendapat mainan baru yang sangat didambakannya. Dan waktu 4 jam dihabiskan anak muda gondrong eksentrik itu untuk menikmati apa yang disebutnya ‘Nirwana Terpendam Kota Atlas’.
Sejak saat itu, BimBim menemukan tempat menyendiri untuk sekadar mendapatkan suasana hening dan menepi sejenak dari aktivitas sehari-hari di kota. Sebuah lokasi yang cocok untuk menyendiri memang, karena letaknya yang terpencil dan bahkan mungkin tidak semua orang ‘Semarang Bawah’ tahu tempat ini. Tempat yang kalau dari arah kampus UNDIP Tembalang terus menuju ke daerah Sendang Mulyo dengan medan yang juga agak sulit, namun sebenarnya di sini terhampar alam yang kalau kita resapi keindahannya niscaya akan semakin menyadarkan kita betapa Maha Kuasanya Sang Seniman Agung.

# # #

20. 23 Oktober ‘05
01.35 WIB
Lagi nge-camp di Nirwana Terpendam Kota Atlas
Cah Ayu,
Udah lama gak nulis-nulis lagi ....
Dan
Sebuah pertanyaan bertengger
GILAKAH AKU INI?
Punya rasa SAYANG hanya untuk Cah Ayu?
Ingat ‘Bim, Cah Ayu sudah ada yang punya!
Eling ‘Bim, Cah Ayu sudah milik orang lain!
Sadar ‘Bim. orang lain itu gak lain Hananto, adik pendampinganmu!
Tahu diri ‘Bim, kamu bertepuk sebelah tangan!
Tuhan ....
Apakah aku ini Bagai Pungguk Merindukan Bulan?
Apakah aku ini kurang pasrah berserah?
Apakah aku ini gak bisa menerima kenyataan?
Apakah aku ini egois?
Sungguh Tuhan,
Rasa ini gak main-main
Rasa ini masih dan akan terus ada
Apakah harus aku pupus?
Apakah harus aku buang?
Apakah harus aku kubur?
Apakah harus aku pendam?
Bersama HARAPAN-HARAPAN
ANGAN-ANGAN
MIMPI-MIMPI
Haruskah begitu?
Cah Ayu,
Mas BimBim-mu ini gak tahan lagi berbohong
Berbohong kalau aku ini cuma sebagai kakak pendamping
Berbohong kalau kedekatan ini hanya sekadar kakak-adik
Berbohong kalau aku ini gak punya rasa sayang
Bagaimana ini Tuhan?
Haruskah aku lepaskan rasa ini pada seseorang?
Haruskah rahasia ini aku buka?
Rahasia ini aku ungkap?
Bapa,
Dada ini sesak sekali!
Jiwa ini letih sekali!
Bagaimana ini Yesus?
Cah Ayu begitu dekat namun tak terjangkau
Sebuah paradoks tercipta
ADA namun TIADA teraih
Cah Ayu,
Maafkan Mas BimBim-mu ini!
Kalau pada akhirnya
Sama sekali gak bisa membunuh
RASA SAYANG ini
Percayalah,
Mas BimBim-mu ini cuma mencoba untuk jujur

27. 13 Nopember ‘05
01.30 WIB
Cah Ayu,
Seperti kata Kierkegaard, “Aku memilih maka aku ada”
Ya .... OPTO ERGO SUM
Telah kutetapkan akan aku katakan
Akan aku buka
Akan aku ungkapkan
Semua rasa ini
Ya .... RASA SAYANG INI
pada Cah Ayu
yang adalah MITHA
Sekaligus akan aku pinta
Cah Ayu untuk jadi Sigaran Nyawa-ku
Alias GARWA
Alias ISTRI
Jujur ....!
Apakah Cah Ayu memiliki rasa yang sama
Apakah gayung bersambut
Sama sekali bukan yang utama
Lebih dari itu,
Sang benih mungil calon ada kehidupan di dalam rahim Cah Ayu harus memiliki seorang ayah .....
Hananto ....
Sungguh! Aku sama sekali tidak bermaksud mengambil kesempatan dalam kesedihan Cah Ayu
Cuma,
Semoga inilah yang terbaik yang bisa aku lakukan dan berikan buat kalian berdua, dan tanpa ada embel-embel lain yang mengiringinya
Yesus ....
Bimbing aku!
Semoga pilihan ini adalah yang terbaik yang aku punya
Fiat voluntas Tua!
Jadilah kehendakMu!
Amin.

# # #

“Mas BimBim ...” Mitha tidak dapat lagi meneruskan perkataannya, lembaran-lembaran yang baru saja selesai dibacanya sudah cukup menjelaskan.
“Ya ...Mitha! Itulah adanya aku, maafkan aku! Tapi kalau Mitha tidak mau, minimal terimalah aku sampai ‘si mungil’ hadir ke dunia, setelah itu Mitha bisa tinggalkan aku!”
“Sungguh ...! Aku tidak berpikiran apa-apa selain mungkin inilah yang terbaik yang bisa aku berikan ....”
“Semuanya aku serahkan sama Mitha! Sama sekali tidak paksaan dalam kejujuranku ini ....”
“Mas BimBim ..... Mitha sangat percaya dengan ketulusan Mas BimBim! Cuma ...” Airmata haru berlinang seiring perkataan yang tertahan, “Apa Mitha pantas menerimanya? Mitha yang penuh dosa ini?”
“Cah Ayu, kita semua adalah orang yang gak akan luput dari dosa ... dan semua bukan masalah pantas tidak pantas ....”
“Terima kasih Mas BimBim! Mas BimBim bantu Mitha belajar menyayangi Mas BimBim seperti Mas BimBim menyayangi Mitha ya ....”
“I’ll do my best Cah Ayu! Nah, sekarang jangan sedih lagi ya! Kita hadapi semua dengan senyuman!”
“Cah Ayu, ini barulah koma yang akan disusul dengan koma-koma lain. Ini belumlah titik! Yuk .... kita bertelut lutut bersama .....!”

Senin, 02 Februari 2009

AKU MEMILIH MAKA AKU ADA

LEMBARAN II

NIRWANA PULAU DEWATA

Langit pinggiran Pantai Kuta mulai merambatkan cahaya, perlahan tapi pasti bulatan besar di ufuk timur mulai bangun dari tidur siap melaksanakan rutinitas menyinari bumi. Suasana ‘Sun Rise’ pagi ini nampak begitu elok setelah subuh tadi bumi kawasan Kuta tersiram percikan kecil bulir-bulir air dari langit. Butiran pasir tampak berkilau tertimpa cahaya surya fajar menimbulkan nuansa eksotis tersendiri yang dapat membangkitkan gairah penyair untuk menggoreskan penanya. Rona-rona berwarna jingga setia mengiringi pergantian waktu seperti hari-hari sebelumnya. Gulungan ombak silih berganti menerpa hamparan pasir yang masih menyisakan basah, sementara angin seakan malas untuk berbaur dalam fenomena alam melenakan.
Suasana begitu lengang, hanya ada beberapa orang bermain-main di sepanjang garis pantai. Sebagian besar dari mereka tampak sedang menikmati nuansa indah pergantian hari, ada lima orang turis asal Afrika sedang berkejaran beradu dengan ombak Kuta. Dan jika pandangan dialihkan pada Jalan Raya Kuta, tampak lengang pula di sana. Hanya sesekali kendaraan bermotor melintasi jalan satu arah itu, sementara tiga orang perempuan berusia kira-kira 40 tahunan sedang menyapu jalan sambil sebentar-sebentar berbincang riang hati. Tampak pula empat orang turis Jepang atau Korea tengah asyik mengambil pose di depan monumen papan selancar berukuran besar di sisi kanan Hard Rock Cafe Bali yang seakan mati. Kontras sekali dengan suasana enam jam sebelumnya di mana musik hingar bingar mewarnai lalu lalang orang disekitarnya. Di udara, Koloni-koloni kecil burung gereja beterbangan ke sana kemari meramaikan pagi.
Pada salah satu sisi kaki penyangga pos penjaga pantai, duduk seorang perempuan muda berpenampilan santai dengan celana jins robek di bagian dengkulnya dan berkaos oblong putih. Konsentrasinya terpusat pada lembaran kertas di pangkuannya tanpa mempedulikan sekitar. Seakan suasana pagi ini merupakan godaan bagi sang dewi pertapa muda yang harus diacuhkan kehadirannya. Sesekali balpoin di tangan kanan digunakan untuk menggaruk rambut hitam ala ‘Demi Moore’ miliknya yang sebenarnya tidak gatal, melainkan garukan cerminan dari ekspresi sedang berpikir.
“Huh, dasar Joni edan! Pagi-pagi begini bisa saja ngerjain orang, mending kalau dianggap lembur dapat kompensasi!” Gerutu gadis muda tadi sambil terus membolak-balik kertas dihadapannya.
“Ini lagi hasil report begini banyak susunannya nggak jelas! Ini sih sama saja kerja dari awal, mana nanti jam 10 sudah harus dikirim ke Jakarta lagi. Joni ... Joni! Sukses deh kamu bikin repot orang!” Tak berhenti gerutuan keluar dari mulut sang gadis cantik berperawakan gagah itu.
“Excuse me Miss, can you help me please? Bii ... sa ...... miii...nta .... tooo....loonng?” Seorang turis Amerika memotong gerutuan sang gadis.
“Oh .... do you wanna take a picture Sir? Okay, I will take it for you!” Ia segera bangkit,lalu mengebutkan tangannya pada bagian belakang celana jins-nya dan mengambil kamera digital yang telah disodorkan padanya.
“There! I wanna take a picture right there! With the sun shine for the back ground, okay?” Turis tadi menunjuk sebatang kayu besar yang tergeletak dimain-mainkan ombak tak jauh dari pos penjaga pantai.
“Okay! No problem Sir! Let’s go there!” Balas sang dara yang langsung berjalan ke tempat dimaksud sang turis tadi.
“Sir, can I take you twice for back up?” Tanyanya ketika mulai memfokuskan kamera.
“Okay! It’s up to you.” Turis tersebut segera berpose dengan kaki kirinya ditumpangkan pada batang pohon dan kedua tangannya dilipat di dada.
“Wow! What a good camera!” Puji sang gadis sambil mencari fokus yang tepat, “Okay Sir, are you ready? One .... two ... Once again, one .... two .....!”
“Okay! It’s done! Here’s your camera Sir!”
“Thanks a lot Miss .... Oh! You’re a journalist! Prajna Agni Mahardika! What a beautiful name you have ... very .... very classic!” Puji sang turis saat membaca nama sang gadis ‘pemotret dadakan’ lewat name tag yang dikenakannya, “What kind of information that you’ve report Miss Prajna?” Sambungnya lagi.
“I am in art and culture section Sir! And you can call me Agni!” Rana menjulurkan tangannya.
“Oh ... sorry! I am Clementine Robinson and you can call me Robby! Art and culture .... it’s very interesting field especially in a world that all thing works mechanically and digitally right now! It looks like ‘another world’.”
“Okay Agni! You look busy right now. Once again thanks a lot for your time and nice to meet you!” Robby mengeluarkan kartu nama dari dompetnya, “Here’s for you! You can call me anytime if you need any reference about your report!” Sambungnya sambil menyerahkan kartu nama tadi pada Agni.
“See you Agni!” Robby melangkah meninggalkan Agni sambil melambaikan tangannya.
”See you Robby!” Agni membalas lambaian tangan Robby.
Kembali Agni sendiri, ia tidak langsung kembali ke bawah pos penjaga pantai tempatnya tadi menyibukkan diri dalam lembar-lembar laporan kerja yang harus diselesaikannya. Dipandangnya kartu nama pemberian Robby tadi, “Hmmm .... Environment and Wildlife Care Fund! Ternyata orang NGO dia, simpatik juga sih ...boleh juga buat teman diskusi!” Gumam Agni pada dirinya sendiri. Tak lama kemudian pandangan matanya beralih melihat sekeliling garis pantai. Tangannya dikembangkannya lebar-lebar menyambut segarnya desir angin yang mulai menampakkan diri walau masih agak bermalas-malasan. Hatinya segera larut menikmati fenomena salah satu tempat wisata unggulan pulau tetangga sebelah timur Pulau Jawa ini, tempat yang seakan menjadi ‘trade mark’ bagi Pulau Dewata. Belum lengkap rasanya kalau ke Bali jika belum singgah ke Kuta ini.
“Ah .... memang cocok sebutan Pulau Dewata disematkan pada pulau ini, alam dan suasananya wow! Bagai dilemparkan ke dalam dongeng-dongeng masa kecil, dan ....” Tersenyum Agni melihat sepasang bule tengah asyik memadu kasih tanpa menghiraukan sekitar, benar-benar dunia milik berdua!, “Disinilah tempatnya untuk bebas mengekspresikan diri menurutkan kata hati asal tidak mengganggu orang lain!” Diteruskan gumamnya sambil menundukkan tunbuhnya mengambil batu karang kecil di depan kakinya dan kemudian dilemparkannya jauh-jauh ke arah laut.
“Di sini memang unik sekali, orang-orang bule yang berdatangan silih berganti dengan berbagai macam latar belakang budaya dan kebiasaan berbaur tanpa mempengaruhi budaya dan pola hidup masyarakat lokal.” Agni berbalik dan kembali ke tempatnya meninggalkan berkas-berkas kerja.
“Sungguh fenomena yang menarik atau cuma karena aku begitu takjub melihat pola kehidupan yang berbeda, setelah selama perjalanan hidup lahir dan dibesarkan di tengah-tengah budaya Jawa? May be ....bisa jadi, aku toh baru satu bulan tugas di sini so ... belum seluruhnya dapat menghayati secara mendalam kehidupan masyarakat Bali.” Kembali Agni bercakap-cakap dengan dirinya.
“Dan lagi kehidupan di Jawa terkadang membuat hati ini muak dengan budaya patriarkalnya, bahwa laki-laki adalah sang kepala segala sementara kaum perempuan hanya kanca wingking swarga nunut neraka katut, teman yang hanya mengikut di belakang -mau ke surga ya ikut, ke neraka ya menurut, pasrah mau dibawa kemana oleh kaum laki-laki tanpa bisa mengambil sikap atau mengeluarkan pendapat, It’s bull shit! Belum lagi tata krama yang kuat mengikat, tidak boleh begini, tidak boleh begitu, harus ini, harus itu. Pokoknya di luar yang telah digariskan adalah salah, adalah aib, noda, cela, huh!”
“Hihihi! Kok jadi sewot sendiri! Nanti malah dikira orang gila lagi! Ah .... mendingan menikmati pagi sembari menyusun report sialan ini! Biar nyusahin toh sumber mata pencaharian yang mau bilang apa.” Agni mengakhiri gerutuan dalam hatinya.
Kembali sang gadis bergelut dengan tumpukan data yang harus dirangkumnya menjadi sebuah narasi untuk ditampilkan pada program kebudayaan di stasiun televisi swasta terkemuka negeri ini tempatnya bekerja. Sesekali terlihat senyum tersungging dibibirnya terkenang akan kejadian-kejadian menarik selama proses pengumpulan data, namun kadang terlihat dahinya berkerut dangan tatapan mata terus terpaku pada deretan huruf-huruf dipangkuannya.
“Apa-apan nih? Kok terputus-putus begini! Coba dibaca ulang.”
“Tarian ini disebut Tari Baris .... ada sejenis Tari Baris yang dinamakan Tari Baris Gede dan ditampilkan pada Upacara Adat Piodalan di pura-pura .... Tarian ini diiringi oleh gamelan khas Bali .... sedangkan Upacara Adat Piodalan adalah upacara peringatan berdirinya pura yang diselenggarakan selama 6 bulan sekali menurut perhitungan orang Bali (1 bulan = 35 hari, jadi Piodalan diadakan setiap 210 hari) .... Ada lagi jenis Tari Baris yang dinamakan Tari Wali .... Tari Baris dilakukan oleh ....”
“Ah ... kok begini banget sih hasil investigasi Si Wawan Sableng itu! Bagaimana mau dibuat alur cerita kalau datanya putus-putus begini!” Setengah memaki Agni cemberut menghadapi pekerjaannya.
“Daripada buntu sendiri, mendingan dengar suara Katon dengan KLa Project-nya!” Ia mengeluarkan Disc Man berwarna hitam dari saku jaketnya dan menekan tombol play lalu dimasukkan kembali ke dalam saku jaket. Sesaat kemudian sang gadis memasangkan ear phone yang sedari tadi tergantung di leher ke telinganya dan kepalanya bergoyang mengikuti irama yang mengalun.
“....Sekian lama ‘tuk mengerti ....dirimu jadi misteri .... yang kian terselami ...” Suara riang keluar dari bibir mungilnya mengikuti alunan sepotong tembang “Tentang Kita”, sebuah lagu lawas milik KLa Project. Namun sesaat kemudian, dendang sang gadis terhenti ketika matanya tertuju pada kalimat di antara data-data yang sedang dirangkum.
“Eh ....eh .... kok langsung putus begini nggak ada kelanjutannya! Wah nggak benar nih Si Wawan buat outline interview-nya! Dasar!” Dengan kesal diletakkan tumpukan kertas dipangkuannya.
“Bilangnya saja sudah lengkap, Agni! Sudah lengkap ...kap!” Gerutuannya masih terus berlanjut, kemudian Agni mengambil bungkus sigaret dari tas kecil dipinggangnya, kemudian di ambil satu batang isinya, dinyalakan, dan dihisapnya.
“Ah .... What the hell dengan report! Salah sendiri Si Wawan ngasih data setengah-setengah, tidak lengkap!” Lalu dikeluarkannya Hand Phone kecil dari saku sebelah kanan celana jins lusuh seperti berhari-hari belum kena air plus deterjen. Beberapa saat kemudian Agni mulai berbicara lewat HP-nya itu.
“Hallo .... Pak Joni, ini Agni! Wah outline dari Wawan tidak lengkap Pak ...di-pending dulu saja ya Pak.”
“Iya Pak! Saya juga tidak bisa nambah-nambahin soalnya Cuma Wawan yang ngeliput. Bapak yang memutuskan ya, bagaimana baiknya.” Agni bercakap-cakap dengan Manajer Produksi Liputan, bosnya Agni, dari benda mungil multi fungsi itu.
“Saran saya Pak? ... Begini saja Pak ... mungkin sebaiknya edisi minggu ini biar timnya Rudi yang di Baduy maju saja, kan memang tim mereka minta dimajukan hasil liputannya karena mereka sudah ditarik ke Jakarta, bagaiman Pak?”
“Oke deh ......! Baik .... baik ....Pak! Minggu depan selesai, baik saya serahkan ke Wawan ... iya Pak pasti!” Agni masih terus bertelepon ria.
“Oh ya ....Pak Joni! Untuk selanjutnya liputan Kultur biar saya saja yang handle ya, Si Wawan biar di Nuansa Lain .... dia kan senang sama yang dugem-dugem begitu. Oke Pak Re-schedule biar saya yang atur ... Baik! Thanks Pak Joni! Bye!” Agni segera membereskan pekerjaannya setelah mematikan rokok putih –sebutan rokok yang dihisapnya untuk membedakan dengan rokok filter yang kadar nikotin dan tar-nya lebih tinggi- ditangannya.
“Wah ... lama-lama dingin juga anginnya! Aneh biasanya jam segini sudah mulai panas?” Sang dara memandangi arloji di tangan kirinya.
“Aha ....! Sarapan roti telur plus kopi pahit sepertinya enak juga! Ah ....mendingan pulang ke kos saja.” Sambil merapikan barang-barang bawaannya, ia bangkit dan melangkah menuju pelataran parkir. Sesampainya di dekat kendaraan bermotor roda dua 4 tak buatan negerinya Kaisar Akihito fasilitas dari kantornya, Agni bergegas merogoh saku celananya mengambil kunci kontak, kemudian bersiap menaiki motor bebek-nya itu. Tiba-tiba saat kaki akan mengayuh tuas starter, pikiran Agni seperti tersentak! Ada yang mengagetkan hatinya.
“Hey ...What’s wrong? Mendadak aku jadi kepikiran Si Mitha. Ada perasaan tidak enak menjalar di hatiku, pasti terjadi apa-apa sama Si Sableng itu.” Raut wajahnya mendadak berubah seperti orang yang dilanda kecemasan.
“Aahh ...! Perasaan ini semakin kuat saja, gawat! Aku harus ke Semarang sekarang juga! Eh ..... Mas Aji juga terasa tidak ya? Coba aku hubungi Mas Aji.” Cepat-cepat ia mengambil HP mungilnya.
“Uuuhhh ....! Kok tidak diang ...Halo Mas Aji! Di mana ini Mas? Apa masih di Pacitan?” Nada suaranya terdengar tidak beraturan.
“Ya.... ya..... Agni! Aku sedang di bis tujuan Semarang buat ketemu Mitha edan itu. Kamu lebih baik ke Semarang juga sekarang, aku punya firasat tidak enak about Mitha adik kita, oke?” Terdengar balasan dari seberang sana.
“Oke ...oke Mas Aji! Aku juga punya firasat yang sama. Aku langsung berangkat hari ini juga, nanti kita ketemu di tempat Oom Edi di Ungaran.”
“Oke! Hati-hati ya di jalan en jangan lupa bawa Brem Bali!” Suara dari seberang.
“Beres Mas! Nanti aku bawa, Mas juga hati-hati ya, bye!” Setelah mematikan HP-nya, Agni langsung menyalakan starter dan sesaat kemudian dirinya telah melaju di jalan raya.
“Aduh ....aduh .... Mitha! Kenapa tidak memberi kabar, ada apa dengan dirimu? Dasar dari dulu sableng-nya tidak hilang-hilang!” Gumamnya ketika sudah sampai di Jalan Legian. Pagi itu ruas jalan yang terkenal dengan pub dan cafe-nya masih sangat lengang, berbeda sekali pada malam hari terutama di akhir pekan saat keadaannya tak ubah seperti di Pasar Baru Jakarta kala menjelang Hari Raya. Setelah menyusuri jalan raya sekitar 20 menit lamanya, tibalah Agni di Jalan Imam Bonjol –salah satu jalan protokol di Denpasar- dan kemudian berbelok ke kanan memasuki jalan kecil buntu di mana tempat kos-nya berada, tempat kos dari awal ia bertugas di Pulau Dewata ini.
Agni masuk ke sebuah komplek bangunan bergaya khas Hindu dengan pagar dari tumpukan batu bata merah, memarkir motornya di tempat parkir, dan dilihatnya keluarga Wayan, keluarga induk semangnya baru saja selesai beribadah pagi di pura kecil di halaman samping komplek bangunan tempat kos-nya.
“Pagi Pak Wayan! Bu Wayan! Hai ... Cokorda, tidak kuliah hari ini?” Sapanya sekadar bertata krama.
“Nanti siang Mbak Agni! Dari mana saja pagi-pagi sudah keluar Mbak? Ada tugas liputan mendadak ya?” Tanya Cokorda, putera semata wayang Bapak dan Ibu Wayan, induk semangnya.
“Ah ...tidak, aku dari Kuta, jalan-jalan pagi sambil menyelesaikan tugas dari pusat.”
“Nak Agni ....maaf ya hari ini sarapannya disiapkan sendiri, Ibu ada pementasan di Balai Gubernuran pagi ini jadi tidak bisa menyiapkan sarapan.” Kata Bu Wayan yang memang merupakan seorang instruktur tari anak-anak.
“Oh ... tidak apa-apa Ibu! Biar nanti saya siapkan sendiri sarapan saya. Oh ... iya, Bapak! Ibu! Sekalian saya mau pamit ke Semarang untuk beberapa hari, ada keperluan keluarga di sana, nanti siang saya berangkat.”
“Baik ... baik Nak Agni! Hati-hati di jalan ya dan salam untuk keluarga di Semarang.” Sambung Pak Wayan.
“Nak Agni ... semuanya sudah Ibu siapkan di meja makan, tinggal meracik sendiri sarapan rotinya.”
“Terima kasih Bu! Saya permisi masuk ke dalam dulu, mari Pak! Ibu! Cokorda!”


LEMBARAN III

KOTA PALAGAN

“Terminal! Terminal! Ambarawa! Ambarawa! Habis! Habis!” Teriak seorang laki-laki muda dengan ikat kepala dari handuk kecil memberitahukan para penumpang kalau mini bus-nya sudah sampai tujuan terakhir. Para penumpang yang hanya tinggal belasan orang itu berduyun-duyun turun menuju tujuan masing-masing. Salah seorang diantaranya adalah seorang gadis muda dengan menyandang ransel besar di punggungnya, ia tampak agak kebingungan ketika kakinya melangkah turun dari mini bus tadi.
Setelah beberapa saat lamanya menoleh ke sana kemari, dirinya kemudian berjalan menuju deretan warung-warung sederhana masih di dalam areal terminal Ambarawa yang tidak terlalu besar-kalau tidak mau dikatakan kecil. Sorot matanya yang bening mengamati sejenak tulisan-tulisan di depan warung-warung tersebut sambil bergumam,
“Ah .... sepertinya makan soto ayam cocok sekali, biar badan jadi agak hangat.” Langkah kakinya beranjak menuju warung yang berada di bagian kiri.
“Kulonuwun, permisi! Ibu pesan soto ayam sama teh manis hangatnya satu ya!”
“Oh .... Inggih, baik Nak! Tasnya taruh saja di sini biar ndak repot. Man! Tolong buatkan teh manis hangat siji!” seorang ibu berusia 60-an menyambut sang gadis dengan keramahan khas Jawa.
“Anak ini sepertinya datang dari jauh ya? Mau kemana Nak?”
“Oh .... tidak Ibu! Saya dari dekat saja kok, dari Semarang! Saya mau ke temapt teman di daerah Kauman, ya hitung-hitung liburan di sini.” Jawab sang gadis sembari tanganya mengambil pisang goreng yang disediakan di piring.
“Sudah sering ke Ambarawa ini Nak? Ini silakan sotonya, nasinya banyak tidak?”
“Sudah Ibu cukup, jangan terlalu banyak! Nggg .... saya baru dua kali ini ke Ambarawa, jadinya masih agak bingung”, tangannya segera menerima mangkuk soto yang disodorkan si ibu dan kemudian diletakkannya di meja.
“Wuih ...! Masih panas betul sotonya! Cocok sekali buat udara sore ini! Mari Ibu, saya makan dulu!”
“Monggo Nak! Mari! Mari! Jangan sungkan-sungkan!” Ibu tadi kemudian masuk ke dalam, dan tak lama berselang keluar lagi sambil membawa segelas teh yang masih mengepulkan asap.
“Nah ... ini Nak teh manis hangatnya, silakan! Kalau boleh Ibu tahu Anak berasal dari mana?”
“Matur nuwun! Saya lahir di Jakarta Bu, di Semarang saya kuliah.”
“Oh ... begtu! Pantas logat Anak ndak seperti orang kelahiran Jawa asli. Ibu tinggal ke dalam ya!”
“Baik ... Ibu, silakan!”

# # #

Langit Ambarawa pukul lima sore hari ini nampak sedikit mendung, udara dingin mulai merasuki seluruh penjuru, kabut tipis-tipis mulai merayap menyelimuti sebagian atap-atap bangunan di sekitar terminal yang tidak terlalu besar itu. Sementara suasana terminal perlahan mulai menyepi. Para pedagang seperti ada memerintah, serentak mengemasi barang dagangan masing-masing dan melangkah meninggalkan terminal. Warung-warung kecil di sana pun mulai menutup diri, tinggal sedikit di antara mereka yang masih enggan mengakhiri perjuangan mencari ‘hidup’ untuk hari ini.
Tak lama kemudian, bulir-bulir air perlahan tertumpah dari langit, lambat mereka bergulir menuju tanah seakan enggan meninggalkan mega tempat mereka berkumpul bermain laksana anak-anak yang malas disuruh pulang meninggalkan tanah lapang arena bermain bersama teman-teman penuh kesukaan. Seiring gerimis yang turun, orang-orang di dalam terminal segera bereaksi, ada yang mencari tempat berteduh, ada juga yang bergegas beranjak meninggalkan terminal.
Sementara itu, di seberang jalan tepat di muka terminal tampak berdiri mematung seorang gadis dengan tas ransel besar bertengger di punggungnya. Tangan kanannya meremas-remas kertas putih –sebagai bukti nominal yang harus dibayarkan atas penggunaan jasa telepon- dari Warung Telekomunikasi di dalam terminal, wajah mungilnya dinaungi semburat kelabu pertanda kemuraman bersemayam di sana. Tubuh sang gadis berdiri membelakangi Jalan raya Ambarawa dengan aspal hitam bergelombangnya akibat berhari-hari menahan beban makhluk-makhluk bermesin tiada henti tanpa memandang ukuran. Mata bulatnya menerawang sayu pada benda berbentuk garis melintang vertikal dan horisontal yang bertengger di puncak sebuah bangunan besar peninggalan masa kolonial dulu; bangunan sebagai tempat ‘Persekutuan Orang Percaya’.
Titik-titik hujan yang jatuh dari langit tidak dihiraukannya membasahi raga dan rambut hitam berkilat sebatas bahu yang kini semakin berkilat karena bilur-bilur air bersarang di sana.
“Ya Tuhan ....! Cobaan apa lagi ini? Mengapa Mbak Yos tidak ada di tempat kost-nya hari ini? Mengapa Mbak Yos menginap di tempat familinya di Jogja hari ini? Oh .... Gusti! Mesti bermalam di mana aku sekarang?” Resah sang gadis memandang salib di puncak bangunan gereja nun di depannya yang perlahan mulai ditutupi kegelapan senjakala.
“Ah .... dingin juga udaranya!” Kemudian ia melepaskan ransel dan diletakkan di atas sebuah batu besar tidak jauh dari tempatnya berdiri, diambilnya sebuah jaket parasut tebal berwarna biru tua dari dalam ranselnya. Ia juga mengambil sebuah organizer kecil yang juga berwarna biru tua dan mulai membuka halaman demi halaman. Beberapa saat berselang wajahnya menengadah ke atas, semburat putus asa terpancar di sana, sementara sinar mata bening yang memancarkan keteduhan milik sang gadis perlahan-lahan meredup seiring suasana hati yang bergemuruh tak kalah dengan gemuruhnya pertempuran legendaris masa Revolusi Fisik tahun 1945-1949 di tempat ini. Pertempuran hebat sepanjang 12 hari yang diabadikan dalam bentuk Palagan Ambarawa.
Sesaat sang gadis menghela napas panjang sembari bergumam, “Oalah .... Gusti! Aku tidak punya kenalan lain selain Mbak Yos di sini! Aduh mesti bagaimana aku sekarang? Oh .... Yesus Junjungan hidupku! Berilah petunjukMu! Atau memang inilah hukuman terhadap piala lemah ini atas apa yang yang telah aku perbuat di hari-hari yang lalu. Tuhan .... bimbinglah aku, hambaMu yang penuh dosa dan cela. Beri jalan ya Tuhan! Karena bukan hanya diri hamba saja yang saat ini hamba bawa namun juga bersemayam pula dalam tubuh ini benih kehidupan baru, kuncup awal kehidupan yang tulus tiada nista.” Wajahnya tertunduk seiring terbentuknya sepasang garis bening di sudut mata beningnya. Garis aliran air yang bukan tetesan hujan membasahi pipi mewakili kepasrahan dan penyesalan. Diremasnya organizer bertuliskan Property of Sekar Ayu Paramitha a.k.a. Mitha di sudut kanan bawahnya.
“Ayo Mitha .... jangan menyerah! Yang maha Agung Di Atas segalanya pasti memberi jalan .... ya ...ya ..... pasti!”
“Angger! Anakku! Yang tabah ya Sayang! Masih di dalam kandungan saja Engkau sudah menerima cobaan yang berat. Ibu yakin kelak Kau akan menjadi seorang berhati sabar dan tabah senantiasa dari semua terpaan hidup. Tolong ya Tuhan! Berikanlah petunjuk!” Penghiburan berwujud doa keluar dari dalam hati Mitha ketika membelai perutnya yang belumlah kelihatan berdiamnya cikal bakal sebentuk pribadi di dalam sana.
“Ya Tuhan! Yesus Kristus Sang Pemimpin umat manusia! Pimpin aku! Aku harus tetap berada di kota ini sampai besok, sampai bisa bertemu dengan Mas BimBim terkasih. Berilah petunjukMu Gusti Yesus!” Mitha menyandarkan tubuh mungilnya pada batang pohon angsana besar di samping batu tempatnya meletakkan ranselnya, pancaran lelah tergambar di mata beningnya, lelah dalam mengarungi liku-liku perjalanan hidup.
Tiba-tiba, sebuah lembaran kertas terjatuh dari dalam organizer yang masih dipegangnya. Diambilnya kertas tadi, yang rupanya merupakan pembatas buku dan dibacanya tulisan yang terdapat di atasnya,
AJA PADHA SUMELANG

Aja padha sumelang ing bab apa waé.
Apa sing kokkarepaké aturna marang Gusti Allah sajroning pandonga,
suwunen kanthi saos panuwun.


Filipi 4 : 6 versi Bahasa Jawa
Gua Maria KEREB
Ambarawa

“Oh ....ya! Terima kasih Yesus! Akhirnya Kau jawab doaku! Aku tahu sekarang tempat di mana aku bisa bermalam! Ya .... Gua Maria Kereb! Dulu, Marcel, anak NTT itu pernah mengajakku menginap di sana untuk mengikuti Prosesi Jalan Salib, karena aku kepengin mengetahui bagaimana umat Katolik menjalani Ibadah Prosesi Jalan Salib.
Oh .... Thanks God! Akhirnya Kau tunjukkan jalan bagi hambaMu ini!” Sinar mata bening yang tadi mulai meredup kembali merona memancarkan cahaya pengharapan laksana fajar pagi menerangi bumi. Cahaya semangat akan merekahnya kembali asa hati.
Bergegas Mitha merapikan ranselnya dan segera meninggalkan tempatnya berdiri. Tubuh mungilnya terus melangkahkan kaki ke arah gereja yang sedari tadi dipandanginya, terus melewati deretan pagar gereja dan akhirnya berbelok memmasuki jalan kecil di sebelah pagar terakhir milik gereja. Mitha terus berjalan menyusuri jalan kecil yang menanjak itu, sementara sayup-sayup terdengar lonceng gereja berdentang tujuh kali seakan mengiringi langkah-langkah lambatnya. Langkah sang gadis melewati komplek perumahan di kanan kiri jalan, kemudian berganti melintasi kebun-kebun. Hujan telah berhenti, bunyi gemericik air tumpahan dari langit telah berganti dengan alunan paduan suara jangkerik susl-menyusul membentuk nuansa melodi khas kehidupan.
Selang lima puluh menit kemudian, Mitha telah tiba di depan gerbang komplek Gua Maria Kereb yang memang 24 jam selalu terbuka untuk dikunjungi oleh siapapun yang ingin berdialog dengan Sang Empu Alam Junjungan Sejati umat manusia secara pribadi ataupun berkelompok. Mitha menghentikan langkahnya dan duduk di samping pintu gerbang di atas batu beton persegi empat yang memang dibuat untuk tempat duduk.
“Terima kasih Yesus! Akhirnya aku bisa menghabiskan malam tanpa kebingungan untuk berteduh. Aku harus bertemu petugas di sini untuk meminta ijin bermalam!” Bara semangat terpancar dalam diri Mitha, yang segera bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam komplek peziarahan tersebut.

# # #

Bumi Palagan belum lagi terang, warna merah masih mendominasi hamparan langit di atasnya. Kokok ayam mulai bersahut-sahutan mengajak para penghuni tanah Palagan ini untuk kembali memulai aktivitas masing-masing mengisi kehidupan.
Mitha terbangun dari tidurnya yang belum lengkap, bola matanya terlihat tidak dapat membuka penuh tanda kantuk masih menghinggapi dirinya. Perlahan diraihnya botol air mineral di sisi kanan tempatnya tidur yang adalah sudut sebuah pendopo berukuran 10x8 m di dalam komplek peziarahan umat Katolik, khususnya yang berada di daerah Semarang, Ambarawa, Salatiga, dan sekitarnya.
“Hmmmhh ....! Aduh, badanku masih pegal-pegal!” Dilawannya kantuk yang masih menyengat dan perlahan-lahan dilipatnya selimut yang dipakai sebagai alas tidur.
“Pagi Nak Mitha! Bagaimana, nyenyak tidurnya semalam?” Seorang bapak menyapa Mitha dengan ramah.
“Selamat pagi Pak Handoko! Yah lumayan Pak bisa beristirahat sebentar.”
“Nampaknya Nak Mitha berasal dari luar kota ya?”
“Iya Pak! Saya dari Semarang! Bapak sudah lama bekerja di sini?”
“Wah .... kalau bekerja di sini, saya sudah puluhan tahun Nak Mitha!” Pak Handoko ikut duduk tidak jauh dari Mitha.
“Nak Mitha! Saya sedang memasak air, saya buatkan minum ya! Mau teh atau kopi?”
“Aduh ... Pak Handoko! Ndak usah repot-repot! Saya jadi merasa tidak enak!”
”Ndak repot kok Nak Mitha, sungguh! Ya ... hitung-hitung buat menghangatkan badan.”
“Matur nuwun lho Pak handoko! Kalau boleh saya nge-teh saja Pak!”
“Baik ... baik! Nak Mitha saya tinggal sebentar ya! Saya buatkan dulu! Silakan kalau mau meneruskan beres-beres lagi, saya tinggal dulu!” Pak Handoko segera beranjak dari duduknya dan pergi ke arah belakang pendopo.
“Terima kasih Tuhan! Ternyata Engkau masih memperhatikan diri ini lewat orang seperti Pak Handoko!” Mata bening milik gadis manis itu tampak berkaca-kaca terharu akan apa yang dialaminya. Sejenak ia terdiam, lalu dilipatnya selimut dipangkuannya dan dimasukkan ke dalam ransel. Setelah itu, Mitha mengeluarkan organizer kesayangannya. Dibacanya sejenak tulisan terakhir dan mulailah Mitha menulis ......
F.L.A.S.H. B.A.C.K.

Bergetar ada sadarku
Tersentuh fenomena lam
Menggentarkan rasa menyalib jiwa
Sakit .....
Gerimis seakan berjalan terus
Dingin menggelontorkan airnya
Merasuk pada sukma kelabu
Perih .....
Luka !
Kembali menganga
Merah melampaui segala duka
Meraja nostalgi lalu
Mengenang batin samsara

Hening .....
Berkepanjangan disertai tanya
Mengapa aku
Mengapa tak henti
Badai menghampiri
Ataukah tak akan berakhir
Tak akan pernah
Diam .....
Dibalik diam gejolak meraja
Rasa ingin memutar balik
Perbaiki kesalahan diri
Menata kehidupan
Lewati segala coba
Seperti hari ini
Menuai asa baru
Menghiasi sisi hidup
Sampai nanti
Ya .... sampai nanti

Note : Segala sesuatu memiliki makna dikedalaman sarinya
Kuatlah Mitha!
Perjalanan masih sangat panjang dan berliku

Tanpa disadari butiran air bening menetes dari sudut mata Mitha yang telah selesai menulis.
“Nah ....! Ini wedang teh-nya! Silakan Nak Mitha diminum jangan sungkan-sungkan!” Kehadiran Pak Handoko menghentikan lamunan dan tangis Mitha.
“Iya .... Pak! Terima kasih banyak Pak Handoko, jadi merepotkan Bapak!”
“Ndak ...ndak ....! Tidak merepotkan kok, ya Cuma teh orang pelosok mungkin tidak seenak teh di kota.”
“Ah .... Bapak! Terlalu merendah, enak kok Pak, sungguh! Apalagi wangi melatinya terasa sekali, jadi membuat segar!”
“Syukurlah! Kalau begitu Bapak tinggal keliling dulu ya nak Mitha! Diminum sampai habis teh-nya! Dan nanti kalau Nak Mitha ingin mandi, di kamar mandi kantoran saja! Di sana lebih bersih! Nak mitha tahu kan letaknya?”
“Iya, Pak! Saya tahu! Terima kasih atas kebaikan Bapak! Silakan kalau Pak Handoko mau keliling.”
“Mari Nak Mitha! Saya tinggal dulu!”
“Silakan, Pak Handoko!”
Pak Handoko berlalu meninggalkan Mitha yang masih menyeruput teh melati hangat buatan Pak Handoko. Mitha tersenyum teringat teh poci Simpang Lima Semarang yang selalu menemani malam-malam kebersamaannya dengan Mas BimBim terkasih.
“Mas BimBim! Aku tidak sabar untuk segera bertemu! Aku kangen Mas BimBim!”

Minggu, 01 Februari 2009

AKU MEMILIH MAKA AKU ADA

AWALAN
Dibaca ulang apa yang baru saja selesai ia tulis ........
PERJALANAN
Hujan menghempaskan setitik air
Jatuh ke dalam pelukan sehelai daun
Sejenak diam di pangkuan sang bunga
Ditimang selaraskan kidung alam
Kemudian turun menyatu merahnya tanah
Berkumpul dalam mata air kehidupan
Mengalir terus mengalir dibawa hidup
Kadang meronta tidak seiring
Kadang merintih terbentur karang
Kadang terhanyut riang segala
Kadang tercenung dalam diam
Mengalir terus mengalir
Pada apa mau alam menggiring
Sesaat lepas melesat seirama sang aku
Sesaat pasrah akan suratan Empu Alam
Mengalir terus mengalir
Sampai tiba masa memanggil
Bernaung dalam lautan makna tak terkira
n.b. : Thanks a lot Mas BimBim! Yang selalu sabar menemaniku membuka lembar- lembar sang ada kehidupan

Maka terbukalah lembaran demi lembaran,





LEMBARAN I

SITUS PACITAN

Semilir angin pukul tiga pagi bulan Nopember merambat perlahan mengitari sekumpulan tenda di atas lembah berbatu. Dua puluh tujuh buah tenda berukuran besar dan kecil itu hanya diterangi lampu temaram 5 watt atau nyala api malu-malu dari dalam semprong milik lampu kecil yang biasa disebut ‘lampu teplok’ atau lampu tempel. Suasana sepi menyelimuti kawanan tenda tersebut, hanya gemuruh generator yang menjadikan kontras suasana, menggelora tanpa menghiraukan makian alam dini hari, ia tetap setia menunaikan tugasnya sebagai sumber penerang pengganti sang surya yang pergi ke belahan lain planet biru ini.
Sementara, di dalam tenda-tenda, tarikan-tarikan napas perlahan namun teratur tak bergeming pada raungan mesin berbahan bakar diesel itu. Mereka tenggelam dalam kenikmatan masa reses fisik dan jiwa dari kesibukan aktivitas sehari-hari. Masing-masing terbuai oleh hembusan angin melenakan mimpi seirama waktu yang seakan merayap membiarkan insan-insan tersebut memuaskan kebutuhan rutin mereka.
Namun di antara keheningan meraja, tepat di tengah-tengah kumpulan ‘rumah darurat’ tersebut, pada sebuah yang berukuran paling besar dari lain-lainnya tampak sinar lampu petromak masih menerangi seluruh ruangan. Seorang laki-laki muda dengan sebatang sigaret terselip dibibirnya tengah berdiri menghadap meja kayu jati tua berwarna cokelat. Dirinya tercenung dalam hamparan buku-buku beraroma khas dengan berat masing-masing rata-rata 2 kg. Sesaat kemudian, dilepasnya sigaret itu setelah sebelumnya dihembus dalam-dalam. Setelah itu tanpa melihat jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya yang mengapit sang benda mungil berasap penghasil nikotin dan tar tersebut diulurkan untuk mencari tempat persinggahan.
Ternyata sang sigaret jatuh ke tempat yang tidak diinginkannya, yaitu tepat di atas tumpukan kertas bertuliskan “Laporan Penelitian Mengenai Manusia Indonesia Mula-Mula”, “Wedus!” Segera ia melempar sigaret tersebut ke lantai tanah bercampur batu kerikil dan membersihkan abu yang berceceran di atas kertas laporan tadi.
“Ayolah wahai petromak, jangan kau mati dulu sebelum matahari menggantikan tugasmu! Sabarlah dan setia menemani!” Ia beranjak dari tempatnya berdiri menghampiri lampu petromak yang tergantung pada sebuah besi kecil tepat di tengah ruangan, setelah sebelumnya menyeruput kopi yang tidak panas lagi. Tangannya menyibak rambut hitam panjang melebihi bahu miliknya.
Ia kemudian mengambil lampu itu dan meletakkannya di bawah, dan sambil berjongkok, mulailah ia memompa tuas berkepala merah bergambar kupu-kupu berwarna putih yang ada di bagian bawah lampu.
“Come on baby! Jangan kau rusak mood yang ada dalam kepalaku. Bisa bangkit Pithecanthropus Erectus dan teman-temannya mendengar kemarahan Mr. Suryadi, dosen tercinta, jika laporanku tak kuselesaikan sekarang.”
“Okay honey, let’s continue our job!” Gumamnya sambil terus memompa.
“Good! Well Done! Akhirnya mau kompromi juga kau! Ternyata manja juga kau ya minta dirayu segala! Oh .... thanks God! Okay, now back to the report!” Ujarnya lega sambil mengangkat sang sumber penerang itu dan digantungkan ke tempatnya semula.
Kemudian tubuh bertinggi rata-rata lelaki nusantara itu berbalik menuju ke tempat kerjanya. Sesampainya di tepi meja, ia mengambil sebatang sigaret, disulutnya, dan dalam sekejap mulutnya sudah mengepulkan asap pekat. Tubuhnya sedikit mengigil diterpa angin Pacitan dini hari yang menusuk tulang, lalu dimainkan rambut gondrongnya ke kiri dan ke kanan sebagai gerakan spontan pengusir dingin.
“Ah ..... kenapa mesti orang luar yang pertama kali menemukan fosil-fosil nenek moyang ini? So, beginilah dokumen yang ada ditulis dalam bahasa mereka, huh!”, sambil menggerutu, tangannya membolak-balik Kamus Bahasa Belanda-Indonesia mencari kata yang menyulitkannya.
“Sungguh sebuah ironi! Ketika orang-orang macam Dubois dan Van Stein Callenfels sampai sekarang terobsesi untuk mengungkap tabir asal-usul Manusia Indonesia, justru sang anak bangsa sendiri asyik tenggelam dengan modernisasi penghasil manusia konsumtif sejati penuh gengsi serta kaum hedonis anti sosial! Eh ..... anggapan yang terlalu berlebihankah?” Tersenyum sang peneliti muda di tengah diskusi dengan alam pikirannya sendiri.
“Ataukah hanya sebuah apologi, pembelaan diri dari seorang mahasiswa Arkeologi yang frustasi serba iri, jurusannya kadung ditempeli label ‘ora kemedol’ alias tidak layak jual, tidak menjanjikan dalam kancah lapangan kerja? Ah ..... entahlah.” Pekerjaannya sementara terlupakan oleh pergulatan batin yang tengah dialaminya.
“Tapi tidak juga!” Nada pesimis dalam lamunannya segera ditepis, “Seorang Insinyur Soekarno saja yang notabene anak bangsa super cerdas lulusan ilmu teknik serba pasti dengan rumus-rumus dan hitungan absolut pernah berkata ‘Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah’ ..... eh ...... kok jadi ngelantur begini!”, Ia lantas bergulat kembali dengan kamus dihadapannya.
“Walah .....walah! Benar-benar dikerjain aku! Staatsblad sialan! Lembaran Negara jahanam! Diksimu kok susah sekali sih!” Dihisap sigaretnya lebih dalam dari sebelumnya sambil beranjak duduk di kursi yang juga terbuat dari kayu jati tua polos tanpa ukiran. Dihempaskan punggungnya pada sandaran kursi, diam sejenak untuk kemudian pemilik tubuh langsing itu tegak kembali menekuni pekerjaannya.
“Come on, guy! Seorang Wisnu Aji Dewobroto bukanlah orang yang gampang putus asa, wake up! Let finish these thing!”
# # #
Lamat-lamat mengalun suara Azan Subuh sebagai panggilan untuk bersembahyang, bersembah kepada Yang Maha Esa, bersujud menghadap Yang Maha Kuasa. Suara panggilan lembut yang berasal dari perkampungan penduduk di sebelah timur berjarak kurang lebih 10 km dari lokasi tenda-tenda Tim Eksvakasi Gabungan dari berbagai perguruan tinggi di Republik ini. Nampak mulai terlihat geliat-geliat kecil di sebagian tenda, pertanda sudah ada orang-orang yang menyelesaikan masa istirahat mereka dan bersiap tenggelam dalam aktivitas di hari yang baru. Sementara sang calon arkeolog muda di dalam tenda terbesar itu, masih meneruskan pekerjaannya. Kini, ia sedang mencari buku di deretan dua buah rak setinggi dua meter berisikan aneka ragam buku serta jurnal bahan referensi pendukung penelitian.
“Lho! Mas Aji masih belum tidur? Wah ngelembur ya? Saya buatkan mie rebus pakai telur buat sarapan, bagaimana Mas Aji?” Seorang laki-laki berumur 50-an masuk ke dalam tenda.
“Eh .... Pak Gimin, wah cocok sekali Pak! Boleh juga tawaran Bapak itu.”
“Baik .... kalau begitu saya siapkan dulu ya Mas Aji, permisi!”
“Terima kasih Pak Gimin! Seperti yang biasa yang Pak, pakai kecap dan saus.”
“Baik Mas Aji! Mari!” Lelaki yang masih tegap untuk ukuran seusianya itu pergi meninggalkan tenda.
“Mari! Mari! Pak Gimin!” Ujar Aji sambil menghisap sigaretnya yang entah sudah batang ke berapa sedari malam tadi. Ia masih mencari buku di dalam rak yang terletak di sudut kanan ruangan.
“Benar-benar implementasi kata-kata Kahlil Gibran, Pak Gimin itu, ‘Akar adalah Bunga yang Meremehkan Kemashyuran’, jiwa abdi sejati yang melayani semua orang tanpa mempedulikan balasan yang akan didapat. Entah gimana jadinya Tim Eksvakasi ini tanpa kehadiran Pak Gimin.” Gumam Aji sambil terus mencari buku yang diinginkannya.
“Ah .... di mana lagi itu buku ‘Teori dan Metodologi Sejarah’? Giliran mau dipergunakan malah tidak ada. Jangkrik! Pasti anak-anak yang ambil, dasar!” Gerutunya ketika buku yang dicari tidak ditemukannya. Namun, tak lama berselang aroma mie instan yang dibawa Pak Gimin membuyarkan kekesalan Aji.
“Permisi Mas Aji! Ini mie-nya, silakan dimakan dulu nati keburu dingin jadi ndak enak!”
“Iya Pak Gimin! Matur Nuwun! Terima kasih Pak! Lho Bapak kok tidak ikut makan?”
“Sudah, terima kasih Mas Aji! Saya nanti saja, silakan Mas Aji makan dulu.”
“Kalau begitu, Bapak temani saya ngobrol saja ya.” Aji menerima mangkuk mie tersebut sambil menghirup kepulan asapnya.
“Hm ..... hm ..... nikmat sekali! Mari Pak, saya makan dulu!”
“Monggo .... Mas Aji, silakan!”
Aji segera mengambil duduk di depan meja kerja di sebelah tumpukan buku-buku dan kertas laporan penelitian yang tadi dihadapinya. Dengan nikmat disantapnya mie instan buatan Pak Gimin sambil sesekali meniupkan mulutnya ke mangkuk.
“Pak Gimin, sedari kecil Bapak tinggal di sini?”
“Oh .... ndak Mas Aji, saya lahir dan besar di Wonogiri, di dukuh kecil tepi sebelah barat Bendungan Gajah Mungkur. Saya di Pacitan sini baru dua tahun Mas Aji. Maaf Mas Aji, boleh saya pinjam korek apinya?”
“Silakan Pak Gimin, ambil saja, itu di meja sana di atas layar komputer.”
Pak Gimin segera menuju meja yang ditunjukkan Aji sambil tangannya mengeluarkan rokok tingwe alias ngelinting dewe buatannya sendiri dari sebuah kotak kayu kecil berukir yang diambil dari saku jaket parasut hitamnya. Terdengar suara gemericik dari sigaret yang dinyalakan Pak Gimin dan tak berapa lama terciumlah aroma khas tembakau memenuhi ruangan berukuran 8x5 m itu diiringi oleh kepulan asap pekat berwarna putih keabu-abuan.
“Gimana Pak Gimin kerasan ikut dengan Tim Penelitian kami?” Tanya Aji lebih lanjut.
“Ya pasti betah Mas Aji, lagipula yang namanya kerja di mana saja pasti sama, ya pasti capek, contohnya ya Mas Aji ini, sampai harus lembur kurang tidur begini.” Sekali lagi dihirupnya dalam-dalam sigaret untuk mengurangi hawa dingin yang menusuk tulang.
“Bapak memang dilahirkan sebagai tipikal Manusia Jawa sejati rupanya, konsep pasrah sumarah dalam memandang dan menghadapi hidup begitu melekat dalam diri Bapak lahir dan batin.”
“Yah .... begitulah Mas Aji, sebagai keturunan asli Jawa saya memang terbiasa dengan tata krama Jawa. Apalagi orang seperti bapak ini yang SD saja tidak tamat yang Cuma bisa menerima apa adanya, ya kan Mas Aji?” Sahut Pak Gimin sambil tersenyum penuh arti.
“Wah .... wah! Nyindir nih Pak Gimin! Mentang-mentang saya mahasiswa. Ya .... memang tidak sedikit kalangan berpendidikan tinggi, kaum intelektual“, Aji mengambil sapu tangan dari saku celana jins belel-nya, “terjebak jadi sok modern dan menganggap tata krama orang tua mereka sudah kuno, ketinggalan jaman.”
“Ya .... ndak nyindir kok Mas Aji, lagipula mahasiswa-mahasiswa di sini baik dan sopan.” Ujar Pak Gimin.
“Tidak apa-apa Pak Gimin, justru sindiran kadang dapat membangun. Lagipula saya bukannya tidak suka atau anti dengan adat Jawa. Terus terang banyak falsafah Jawa yang dapat saya resapi dan saya praktekkan dalam hidup sehari-hari. Walaupun tidak semuanya saya ambil, ada beberapa hal yang saya tidak sependapat dari falsafah atau adat Jawa itu.”
“Wah .... wah ....! Jadi ngelantur pembicaraan saya. Mending, sehabis makan merokok dulu!” Aji menyudahi sendiri pembicaraannya.
“Sudah Mas Aji, taruh saja di meja, biar saya saja yang bereskan.” Sahut Pak Gimin ketika Aji bergegas hendak membawa mangkuk mie instan yang sudah ludes isinya itu.
“Terima kasih Pak Gimin!” Kemudian Aji melangkah menuju kulkas kecil yang ada di dekat rak buku, membukanya, dan kemudian mengambil sebotol minuman ringan dari dalam kulkas itu, “Pak Gimin, boleh saya mencoba rokok tingwe Bapak?” Sambung Aji.
“Oh.... silakan Mas Aji, tapi kalau ndak enak jangan diejek ya .... maklum rokok desa.” Pak Gimin segera menyodorkan kotak kayu tempat rokoknya pada Aji.
“Nah itu! Basa-basi versi Jawa! Saya sampai tidak habis mengerti mengapa orang Jawa mau menghabiskan banyak waktu hanya untuk berbasa-basi? Sesuatu yang tidak efisien dan kadang justru mengaburkan inti pembicaraan!” Aji menyambut kotak rokok Pak Gimin, mengambil satu batang, dan menyerahkan kembali pada pemiliknya.
“Terima kasih, Pak Gimin!”
“Wah .... Mas Aji ini! Ya .... ndak sopan namanya kalau bicara terang-terangan, langsung tembak saja!”
“Tapi apa tidak capek dan tidak bingung menangkap inti pembicaraan Pak?”
“Disitulah letaknya Mas Aji, orang Jawa dituntut untuk punya Panggraita deneng Sasmita, untuk tanggap akan tanda-tanda atau perlambang yang tidak terucapkan, yang kuat sehingga dapat mengerti apa yang tidak kelihatan.” Pak Gimin mencoba berargumen tentang nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak beliau kecil.
“Memang kepekaan untuk menangkap apa yang tidak terucap, yang tak kasat mata itu perlu. Cuma apakah untuk mempergunakan sasmita atau perlambang harus disertai bumbu-bumbu, berputar-putar dahulu mengelilingi halaman baru masuk rumah? Wah ... capek lho Pak Gimin! Kalau harus selalu begitu.”
“Wah .... nikmatnya tembakau ini! Tembakau dari mana ini Pak?” Aji segera mengalihkan pembicaraan yang menurutnya tidak akan pernah bertemu itu.
“Dari Temanggung Mas Aji, kemarin saya dapat kiriman dari adik yang jadi buruh perkebunan tembakau di sana.”
“Pantas! Rasanya khas .... jadi ingat Temanggung saya, kangen sama udaranya.” Aji menerawang sambil tersenyum penuh kenangan.
“Pak Gimin! Nampaknya Bapak akan melanjutkan kerja? Silakan tidak usah sungkan-sungkan.” Lanjut Aji ketika melihat Pak Gimin membereskan mangkuk dan gelas kopi di meja.
“Betul Mas Aji, ndak apa-apa toh Bapak tinggal dulu? Pak Gimin beranjak keluar tenda.
“Tidak apa-apa Pak Gimin! Silakan dan terima kasih buat mie dan rokoknya.”
“Iya Mas Aji, sama-sama! Mari, saya tinggal dulu!”
Suasana hening kembali menyelimuti, sementara Aji sudah tidak berselera lagi dengan aktivitas pembuatan laporannya. Sinar petromak juga perlahan mulai meredup lelah semalaman menunaikan tugasnya. Beringsut sang jiwa muda kelana itu mengenakan jaket, lalu mengambil bungkus rokok bersama teman setianya, sang pemantik api. Disapunya pandangan ke sekeliling ruangan dan dengan helaan napas tertahan, tubuhnya melangkah keluar. Dibiarkannya petromak meredup, sementara kakinya terus melangkah menjauh dari komplek tenda Tim Penelitian.
Tanpa menoleh ke belakang, Aji berjalan menuju dataran tinggi di sebelah barat komplek tenda, tempat favoritnya jika ia ingin menyendiri selama satu setengah bulan ia bergabung dengan Tim.
Daerah Situs Purbakala Pacitan mungkin memang sengaja diciptakan layaknya ‘The Lost World’, Peradaban Lampau Yang Hilang. Sebuah wilayah berbatu-batu beriklim kering yang dipagari oleh gugusan dataran tinggi dan lembah bebatuan menghampar. Sebuah wilayah yang terkenal dengan batu akiknya, yang bahkan konon kabarnya ada batu akik yang berharga ratusan juta rupiah di kalangan para kolektor.
Langkahnya terhenti pada sebuah tonggak kayu di puncak dataran tinggi, lalu tubuhnya berbalik dan menghadap ke bawah. Kerumunan tenda Tim tidak terlihat jelas dari tempatnya berdiri, hanya nampak siluetnya saja. Sementara cahaya lampu bersinar laksana kunang-kunang raksasa bermain-main dengan riang. Aji berdiri mematung sambil terus menghirup tembakau pemberian Pak Gimin dan sesekali mulutnya meludah mengeluarkan serpihan tembakau yang mampir di sana. Matanya lekat memandang area tidur panjang ‘Pithecanthropus Erectus’, manusia kera yang sudah dapat berdiri tegak, namun angannya telah berkelana jauh berkilo-kilo meter jaraknya menuju kenangan masa silam yang senantiasa menggugah hatinya. Perasaannya selalu bergetar kala mendengar nama Temanggung, tempat yang selalu tinggal dalam sisi ruang batinnya dan menyisakan memori sangat mendalam.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba Aji tersentak! Dihirupnya dalam-dalam sang tembakau dan dibuangnya dengan resah, ada pikiran lain yang mengusiknya!
“Jangkrik! Mendadak kok aku keingetan sama genduk ragil, adik bungsu perempuanku. Ada apa Mitha? Dia memang berliku-liku jalan hidupnya.” Gelisah Aji mengambil sigaret dari jaketnya dan dinyalakan dengan cepat.
“Ah .... aku harus menghubungi Agni secepatnya! Kok mendadak pikiranku nggak enak, jangan-jangan ada apa-apa dengan Mitha.” Segera Aji meraba-raba saku jaketnya, kemudian pindah ke saku celana, “Jangkrik! pasti HP-ku ada di tenda!” Setengah berlari Aji menuruni punggung bukit tempatnya berdiri.
“Persetan dengan penelitian! Aku harus ke Semarang sekarang juga!”