HIV/AIDS. Sebuah kata yang terdengar ‘angker’ di telinga. Sebuah penyakit mematikan yang adalah ‘kutukan’. Begitulah definisi HIV/AIDS yang mengendap di otak.
Sebuah stigma yang melekat di dalam hampir seluruh sendi-sendi kehidupan sosial bangsa ini. Termasuk juga di dalam kehidupan bergereja. Kehidupan bergereja dalam hal kehidupan berjemaat atau bersekutu. HIV/AIDS cenderung untuk dipinggirkan dalam diskusi, sharing, materi khotbah, dan segala sesuatu yang berbau kegiatan jemaat. Bahkan yang lebih ekstrim lagi HIV/AIDS tidak ada di dalam kamus berjemaat.
Mengapa?
Karena HIV/AIDS adalah penyakit kotor. Penyakit yang ada karena perbuatan amoral dan penuh dosa. Thus, orang yang mengidap AIDS adalah pendosa. Pendosa yang harus menanggung sendiri akibat dari perbuatannya. HIV/AIDS ada karena murka TUHAN terhadap umatNya yang tidak takut akan laranganNya.
Memang gereja tidak pernah menyatakan secara langsung dan tegas bahwa HIV/AIDS adalah sesat. Penderita AIDS adalah orang tidak beriman. Tidak seperti misalnya, Peraturan Daerah mengenai AIDS yang dikeluarkan oleh salah satu propinsi di negara kita tercinta menyatakan bahwa cara mencegah HIV adalah ‘Meningkatkan Iman dan Taqwa’, yang berarti bahwa orang yang tertular HIV atau penderita AIDS adalah orang yang tidak beriman dan bertaqwa. Gereja nampaknya lebih memilih untuk bersikap ‘halus’ untuk memarjinalkan kaum positif AIDS. Gereja tidak memandang HIV/AIDS sebagai salah satu bentuk keprihatinan. Sebagai salah satu pergumulan gereja dalam melaksanakan tugas dan panggilannya. Sehingga porsi prioritasnya setidaknya sama dengan pemiskinan, kehamilan di luar pernikahan, pelestarian alam, kekerasan dalam rumah tangga dan lain-lain.
Gereja cenderung menghindar untuk bergumul dan bergelut dalam upaya penanggulangan AIDS. Untuk tidak mengatakan bahwa gereja sama sekali tidak peduli dengan HIV/AIDS, memang ada beberapa gereja yang mencoba mempergumulkan HIV/AIDS. Namun, itu hanya sebatas materi-materi diskusi atau seminar tentatif atau temporal. Dan, tanpa mengurangi rasa hormat, memang ada segelintir pendeta yang aktif dalam kepedulian pencegahan HIV/AIDS. Namun, hal tersebut masih bersifat sporadis.
Penderita AIDS atau kaum positif AIDS, terlepas dari latar belakang sang penderita terjangkit, adalah juga manusia yang sama posisinya dengan kaum negatif. Sama di sini dalam artian, gereja memiliki tanggung jawab untuk secara sungguh-sungguh melakukan pemeliharaan iman. Tidak menjadikan sang manusia ‘positif’ sekadar sebagai objek yang hanya perlu dikasihani, didoakan, diberikan rasa prihatin. Namun lebih dari itu, sama dengan kaum ‘negatif’ lainnya mendapat porsi sama dan seimbang dalam kehidupan bergereja. Menjadi subjek yang juga diberi kesempatan dalam berpelayanan.
Gereja perlu berpikir ulang dalam menjangkau ladang-ladang pendampingannya. Mungkin ada terlintas di kalangan fungsionaris sebuah gereja, “ah...gereja kita ini gereja kecil! Jemaatnya juga tidak pernah melaporkan ada yang menderita AIDS!...Semuanya baik-baik saja!” Namun, dapatkah kita menjamin 100% bahwa jika tidak ada laporan berarti terbebas dari HIV/AIDS. Atau jika, katakanlah, memang terbebas berarti upaya pencegahan HIV/AIDS tidak perlu dilakukan?
Di sini, tentu saja bukan berarti gereja menjadi ‘menganakemaskan’ isu HIV/AIDS dan pendampingan bagi penderitanya. SAMA SEKALI TIDAK. Gereja juga harus proporsional dalam memenuhi tugas dan panggilannya. Namun, gereja sudah saatnya memulai sekarang, kalau tidak mau dikatakan terlambat, untuk secara berkesinambungan menempatkan isu HIV/AIDS dan upaya pendampingan serta pencegahannya di dalam sendi-sendi kehidupan bergereja.
LOGO
LOGO PARKIR
Tampilkan postingan dengan label Artikel gw. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel gw. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Maret 2009
Senin, 09 Februari 2009
KEMANAKAH, WAHAI KAUM LAKI-LAKI?
Dunia Pendidikan Sekolah Minggu :
KEMANAKAH, WAHAI KAUM LAKI-LAKI?
Oleh : age
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,
maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada
jalan itu.”
Amsal 22 : 6
SEKOLAH MINGGU. Di dalam kehidupan bergereja tentunya bukanlah nama atau istilah yang asing terdengar di telinga. Secara umum, Sekolah Minggu adalah wadah bagi anak balita sampai masa usia pra-remaja untuk dididik dan diajar oleh para pengasuh atau guru Sekolah Minggu mengenai Firman Allah. Melalui Sekolah Minggu anak-anak dididik dan diajar untuk sedini mungkin mengenal Firman Allah. Dengan kata lain, Sekolah Minggu merupakan wadah pendidikan dan pengajaran iman Kristiani bagi anak-anak.
Dalam organisasi gereja, kehadiran Sekolah Minggu tentu saja bukan hanya sekadar pelengkap yang memang harus ada namun ya hanya sebatas ada. Sekolah Minggu merupakan bagian penting dalam gereja yang memiliki potensi dalam proses pembentukan anak untuk dapat tumbuh dan berkembang tidak hanya secara fisik dan intelektual semata, tetapi juga secara emosi, moral, dan spiritual.
Berkaitan dengan betapa pentingnya bidang pelayanan anak di gereja, sama pentingnya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain baik kategorial maupun fungsional. Ada hal yang sedikit menggelitik penulis mengenai dunia pelayanan anak, dalam hal ini implementasinya di dunia pendidikan dan pengajaran Sekolah Minggu, khususnya dengan realita yang ada di dalam orang-orang yang terpanggil untuk menjadi pelayan anak. Hal yang menggelitik tersebut adalah pertanyaan, “Mengapa sedikit sekali kaum laki-laki yang terpanggil untuk menjadi pelayan anak?” Pertanyaan yang seolah diperkuat ketika belum lama ini penulis mengikuti Temu Nasional dan Workshop pelayan anak di Istora Senayan, Jakarta. Dari ribuan peserta yang hadir di acara tersebut, menurut pengamatan penulis persentase kaum laki-laki yang menjadi peserta sangatlah sedikit.
Mungkin pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang biasa-biasa saja, atau bahkan terlalu mengada-ada! Namun, walaupun mungkin baru dapat dikatakan asumsi karena tidak ditopang oleh riset atau penelitian ilmiah, minimnya jumlah pelayan anak dari kaum laki-laki menyiratkan bahwa budaya patriarkal masih sangat kental dalam kehidupan bergereja!
Benarkah pendidikan dan pengajaran anak, dalam hal ini pendidikan dan pengajaran moral dan spiritual di Sekolah Minggu, terutama adalah porsi bagi kaum perempuan? Benarkah bahwa kodrat kaum laki-laki adalah bekerja keras untuk mencari nafkah bagi penghidupan keluarga, sehingga porsi untuk mendidik anak menjadi boleh lebih sedikit dibandingkan kaum perempuan? Dan benarkah bahwa di gereja, kaum laki-laki telah sedemikian sibuk mengurusi hal-hal yang sangat penting dan vital bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja, sehingga bidang pelayanan anak sudah selayaknya diserahkan pada kaum perempuan? Sungguh alangkah perlakuan yang diskriminatif jika pertanyaan-pertanyaan di atas adalah benar adanya!
Jika kita mau bercermin pada apa yang dikatakan Salomo di AMSAL 22 ayat 6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu.” Salomo tidak memberikan spesifikasi berdasarkan jenis kelamin kepada siapa perintah ini ditujukan, misalnya perintah ini khusus bagi kaum ibu atau kaum perempuan. Tidak, sama sekali tidak! Salomo mengarahkan perintah untuk mendidik orang muda atau anak-anak bagi semua orang baik kaum perempuan maupun kaum laki-laki tanpa terkecuali.
Memang jika berbicara secara kodrati, kaum perempuan adalah ibu atau calon ibu yang melahirkan anak-anak. Sudah sewajarnyalah bagi kaum perempuan untuk mencurahkan kasih sayang dan perhatian mereka demi memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak, sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan ini. Namun apakah tugas untuk memberikan pendidikan dan pengajaran anak hanyalah tugas kaum perempuan semata? Tidak, bukan! Salomo pun sebagai seorang laki-laki tidak menyatakan demikian.
Bahkan ketika Allah memerintahkan kepada anak-anak untuk menghormati ayah dan ibu mereka, sekali lagi ayah dan ibu! Bukan hanya menghormati ibu. Perintah yang tentu saja mengandung konsekwensi bahwa jika anak-anak mempunyai tugas untuk menghormati ayah dan ibu mereka, maka ayah dan ibu mempunyai tugas untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak mereka. Sebuah kemestian bahwa tugas memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak bukanlah hanya tugas ibu atau kaum perempuan semata, tetapi adalah juga tugas ayah atau kaum laki-laki.
Ada kesan kuat yang dirasakan penulis bahwa di dalam kehidupan bergereja terdapat paradigma, mudah-mudahan hanya sekadar asumsi, yang menyatakan Sekolah Minggu adalah dunia yang penuh dengan permainan dan hal-hal yang serba sukacita. Dunia yang melulu tanpa beban, tanpa perlu pemikiran-pemikiran yang berat. Dunia yang ringan-ringan saja. Sehingga urusan Sekolah Minggu hanyalah urusan wajib bagi kaum perempuan, sementara bagi kaum laki-laki boleh saja ikut ambil bagian kalau ada waktu. Bagi kaum laki-laki berkiprah atau berpelayanan di Sekolah Minggu bukanlah suatu kemestian. Mau ikut berperan boleh! Tidak mau ambil pusing ya silakan!
Sungguh suatu paradigma yang sangat memprihatinkan, dan tentu saja harus ditiadakan dalam kehidupan bergereja! Sekolah Minggu memang dunia penuh sukacita dan penuh permainan. Namun, berkiprah di dalam pelayanan Sekolah Minggu bukanlah untuk main-main! Sekolah Minggu adalah wadah bagi tumbuh dan berkembangnya moral dan spiritual tunas-tunas muda Kristiani yang perlu dipikirkan dan digeluti secara serius. Dan menjadi tanggung jawab bersama baik bagi kaum perempuan maupun kaum laki-laki untuk senantiasa bergelut dan bergumul mencari format dan metode pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak melalui Sekolah Minggu.
Sudah saatnyalah sekarang, kalau tidak mau dikatakan terlambat, gereja membuang habis akar-akar warisan budaya patriarkal di dalam seluruh sendi kehidupannya. Warisan budaya yang hanya akan melahirkan kesenjangan dan diskriminasi antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Warisan budaya yang hanya akan menghambat pertumbuhan gereja Tuhan di dunia ini. Warisan budaya yang sama sekali tidak adil! Karena manusia adalah kaum laki-laki dan kaum perempuan, bukan hanya kaum laki-laki atau kaum perempuan saja. Karena dalam banyak sisi tidak mungkin laki-laki hidup tanpa perempuan, begitu pun sebaliknya.
Akan lebih indah jika laki-laki dan perempuan dapat bekerja bersama-sama bahu-membahu dalam bergelut dan bergumul di dunia pelayanan anak. Maka tidak akan timbul lagi pertanyaan, “Kemanakah, wahai kaum laki-laki?” Yang ada hanyalah satu tekad, “Inilah kami, laki-laki dan perempuan, yang saling bergandengan tangan berdaya upaya agar anak-anak dapat mewujudkan masa depan mereka yang penuh harapan di dalam KRISTUS! Dan segala kemuliaan hanyalah bagi TUHAN!”
Ladang pelayanan anak masihlah sangat luas untuk bersama-sama kita garap! Tuhan memberkati.
Depok, 15 September 2006
KEMANAKAH, WAHAI KAUM LAKI-LAKI?
Oleh : age
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,
maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada
jalan itu.”
Amsal 22 : 6
SEKOLAH MINGGU. Di dalam kehidupan bergereja tentunya bukanlah nama atau istilah yang asing terdengar di telinga. Secara umum, Sekolah Minggu adalah wadah bagi anak balita sampai masa usia pra-remaja untuk dididik dan diajar oleh para pengasuh atau guru Sekolah Minggu mengenai Firman Allah. Melalui Sekolah Minggu anak-anak dididik dan diajar untuk sedini mungkin mengenal Firman Allah. Dengan kata lain, Sekolah Minggu merupakan wadah pendidikan dan pengajaran iman Kristiani bagi anak-anak.
Dalam organisasi gereja, kehadiran Sekolah Minggu tentu saja bukan hanya sekadar pelengkap yang memang harus ada namun ya hanya sebatas ada. Sekolah Minggu merupakan bagian penting dalam gereja yang memiliki potensi dalam proses pembentukan anak untuk dapat tumbuh dan berkembang tidak hanya secara fisik dan intelektual semata, tetapi juga secara emosi, moral, dan spiritual.
Berkaitan dengan betapa pentingnya bidang pelayanan anak di gereja, sama pentingnya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain baik kategorial maupun fungsional. Ada hal yang sedikit menggelitik penulis mengenai dunia pelayanan anak, dalam hal ini implementasinya di dunia pendidikan dan pengajaran Sekolah Minggu, khususnya dengan realita yang ada di dalam orang-orang yang terpanggil untuk menjadi pelayan anak. Hal yang menggelitik tersebut adalah pertanyaan, “Mengapa sedikit sekali kaum laki-laki yang terpanggil untuk menjadi pelayan anak?” Pertanyaan yang seolah diperkuat ketika belum lama ini penulis mengikuti Temu Nasional dan Workshop pelayan anak di Istora Senayan, Jakarta. Dari ribuan peserta yang hadir di acara tersebut, menurut pengamatan penulis persentase kaum laki-laki yang menjadi peserta sangatlah sedikit.
Mungkin pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang biasa-biasa saja, atau bahkan terlalu mengada-ada! Namun, walaupun mungkin baru dapat dikatakan asumsi karena tidak ditopang oleh riset atau penelitian ilmiah, minimnya jumlah pelayan anak dari kaum laki-laki menyiratkan bahwa budaya patriarkal masih sangat kental dalam kehidupan bergereja!
Benarkah pendidikan dan pengajaran anak, dalam hal ini pendidikan dan pengajaran moral dan spiritual di Sekolah Minggu, terutama adalah porsi bagi kaum perempuan? Benarkah bahwa kodrat kaum laki-laki adalah bekerja keras untuk mencari nafkah bagi penghidupan keluarga, sehingga porsi untuk mendidik anak menjadi boleh lebih sedikit dibandingkan kaum perempuan? Dan benarkah bahwa di gereja, kaum laki-laki telah sedemikian sibuk mengurusi hal-hal yang sangat penting dan vital bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja, sehingga bidang pelayanan anak sudah selayaknya diserahkan pada kaum perempuan? Sungguh alangkah perlakuan yang diskriminatif jika pertanyaan-pertanyaan di atas adalah benar adanya!
Jika kita mau bercermin pada apa yang dikatakan Salomo di AMSAL 22 ayat 6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu.” Salomo tidak memberikan spesifikasi berdasarkan jenis kelamin kepada siapa perintah ini ditujukan, misalnya perintah ini khusus bagi kaum ibu atau kaum perempuan. Tidak, sama sekali tidak! Salomo mengarahkan perintah untuk mendidik orang muda atau anak-anak bagi semua orang baik kaum perempuan maupun kaum laki-laki tanpa terkecuali.
Memang jika berbicara secara kodrati, kaum perempuan adalah ibu atau calon ibu yang melahirkan anak-anak. Sudah sewajarnyalah bagi kaum perempuan untuk mencurahkan kasih sayang dan perhatian mereka demi memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak, sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan ini. Namun apakah tugas untuk memberikan pendidikan dan pengajaran anak hanyalah tugas kaum perempuan semata? Tidak, bukan! Salomo pun sebagai seorang laki-laki tidak menyatakan demikian.
Bahkan ketika Allah memerintahkan kepada anak-anak untuk menghormati ayah dan ibu mereka, sekali lagi ayah dan ibu! Bukan hanya menghormati ibu. Perintah yang tentu saja mengandung konsekwensi bahwa jika anak-anak mempunyai tugas untuk menghormati ayah dan ibu mereka, maka ayah dan ibu mempunyai tugas untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak mereka. Sebuah kemestian bahwa tugas memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak bukanlah hanya tugas ibu atau kaum perempuan semata, tetapi adalah juga tugas ayah atau kaum laki-laki.
Ada kesan kuat yang dirasakan penulis bahwa di dalam kehidupan bergereja terdapat paradigma, mudah-mudahan hanya sekadar asumsi, yang menyatakan Sekolah Minggu adalah dunia yang penuh dengan permainan dan hal-hal yang serba sukacita. Dunia yang melulu tanpa beban, tanpa perlu pemikiran-pemikiran yang berat. Dunia yang ringan-ringan saja. Sehingga urusan Sekolah Minggu hanyalah urusan wajib bagi kaum perempuan, sementara bagi kaum laki-laki boleh saja ikut ambil bagian kalau ada waktu. Bagi kaum laki-laki berkiprah atau berpelayanan di Sekolah Minggu bukanlah suatu kemestian. Mau ikut berperan boleh! Tidak mau ambil pusing ya silakan!
Sungguh suatu paradigma yang sangat memprihatinkan, dan tentu saja harus ditiadakan dalam kehidupan bergereja! Sekolah Minggu memang dunia penuh sukacita dan penuh permainan. Namun, berkiprah di dalam pelayanan Sekolah Minggu bukanlah untuk main-main! Sekolah Minggu adalah wadah bagi tumbuh dan berkembangnya moral dan spiritual tunas-tunas muda Kristiani yang perlu dipikirkan dan digeluti secara serius. Dan menjadi tanggung jawab bersama baik bagi kaum perempuan maupun kaum laki-laki untuk senantiasa bergelut dan bergumul mencari format dan metode pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak melalui Sekolah Minggu.
Sudah saatnyalah sekarang, kalau tidak mau dikatakan terlambat, gereja membuang habis akar-akar warisan budaya patriarkal di dalam seluruh sendi kehidupannya. Warisan budaya yang hanya akan melahirkan kesenjangan dan diskriminasi antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Warisan budaya yang hanya akan menghambat pertumbuhan gereja Tuhan di dunia ini. Warisan budaya yang sama sekali tidak adil! Karena manusia adalah kaum laki-laki dan kaum perempuan, bukan hanya kaum laki-laki atau kaum perempuan saja. Karena dalam banyak sisi tidak mungkin laki-laki hidup tanpa perempuan, begitu pun sebaliknya.
Akan lebih indah jika laki-laki dan perempuan dapat bekerja bersama-sama bahu-membahu dalam bergelut dan bergumul di dunia pelayanan anak. Maka tidak akan timbul lagi pertanyaan, “Kemanakah, wahai kaum laki-laki?” Yang ada hanyalah satu tekad, “Inilah kami, laki-laki dan perempuan, yang saling bergandengan tangan berdaya upaya agar anak-anak dapat mewujudkan masa depan mereka yang penuh harapan di dalam KRISTUS! Dan segala kemuliaan hanyalah bagi TUHAN!”
Ladang pelayanan anak masihlah sangat luas untuk bersama-sama kita garap! Tuhan memberkati.
Depok, 15 September 2006
TUHAN BARU ITU BERNAMA : UANG!
TUHAN BARU ITU BERNAMA : UANG!
Sebuah Tinjauan Kritis bagi Agama Berdasarkan Pemikiran Karl Marx
Karl Marx. Sebuah nama dari seorang pemikir –dan ateis! Berkebangsaan Jerman, yang dapat dipastikan bukanlah nama yang asing di dalam dunia universitas atau dunia akademis. Khusus di Indonesia, Karl Marx telah terlanjur lekat dengan stigma ‘orang kiri’, ateis, komunis, dan sosialis-revolusioner yang notabene merupakan hal-hal tabu di masa Orde Baru. Sesuatu yang jangankan untuk dianut, diwacanakan saja dapat dianggap subversif, bahkan dapat dijebloskan ke dalam penjara.
Kisah Hidup Singkat Seorang Karl Marx
Karl Marx lahir di Tier, Jerman pada tahun 1818 dari keturunan rabi Yahudi. Ayahnya adalah seorang pengacara yang dipaksa untuk berpindah agama menjadi Protestan demi karier dan agar tidak diusir dari tempat tinggalnya. Demikian juga dengan Marx kecil yang bersama dengan ke tujuh orang saudaranya dibaptis dan menjadi penganut agama Protestan.
Teologi Evangelis merupakan pemahaman keagamaan pertama yang digeluti oleh Marx, yang didapat semenjak dirinya bersekolah di Sekolah Rakyat (Voklsschule) Protestan. Setelah itu, Marx melanjutkan studi di Universitas Bonn untuk kemudian pindah ke Universitas Berlin. Di Universitas Berlin inilah perhatian Marx terhadap filsafat mulai menemukan bentuknya, di mana Hegel merupakan inspirator utama dari pemikiran-pemikiran Marx.
Seiring perjalanan waktu, Marx semakin lekat dengan pemikiran Hegel yang mengantarkannya pada sebutan ‘Sayap Kiri Hegel’. Setelah meninggalkan bangku kuliah, Marx bekerja sebagai wartawan dan kemudian pindah ke Paris, Perancis tempat ia bertemu dengan Friedrikht Engels (1820–1895). Karena pertolongan Engelslah Marx dapat meneruskan menciptakan karya-karya ilmiahnya. Ketika Marx diusir dari Perancis, ia pindah ke Brussell, Belgia. Dan pada waktu meletus revolusi yang gagal di Jerman pada tahun 1848, Marx pindah ke Koln, Jerman namun kemudian diusir dari sana. Ia pindah lagi ke Perancis dan akhirnya berdiam di London, Inggris, di mana ia melakukan penelitian dan menulis sebagai koresponden di New York Tribunes. Marx meninggal di London pada tahun 1883.
Awal tulisan-tulisannya, Marx kerap melakukan kritik implikasi terhadap religiositas dan politik konservatif berdasarkan pada Filsafat Hegel, yang menyatakan bahwa penerimaan terhadap hubungan kepemilikan pribadi dan alienasi yang dilakukan oleh mereka. Karya pokok Marx adalah ‘Das Kapital’ atau “Kapital”, yang bagian pertamanya ditulis pada tahun 1867. Kedua bagian lain dari ‘Das Kapital’ tidak dapat diselesaikan, karena kesibukan-kesibukan organisasi dan kondisi kesehatannya. Kedua bagian ini kemudian diterbitkan oleh Engels pada tahun 1885 dan tahun 1894.
Uang : Sang Penguasa Baru
Dalam dunia Kapitalisme, uang hadir sebagai sesuatu yang sangat penting. Menurut Marx, kapitalisme telah menampilkan uang (kapital) sebagai alat penukar yang menentukan nilai bagi suatu materi dan juga sebagai mediasi bagi hubungan antar manusia dan juga manusia dengan alam. Uang mengemuka sedemikian rupa sebagai tolok ukur bagi semua sendi kehidupan manusia yang berkaitan dengan proses produksi dan sistem ekonomi.
Manusia menjadi tereksternalisasikan dari uang, manusia menjadi berada di luar uang. Lalu pertanyaan yang muncul adalah mengapa uang dapat menjadi kuasa di atas manusia? Karena manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berusaha untuk melakukan pertukaran materi demi pemenuhan kebutuhan hidupnya. Proses pertukaran di atas, pada akhirnya berujung pada nilai yang mau tidak mau ditentukan oleh uang.
Berdasarkan fakta di atas, Marx mengemukakan pemikiran bahwa uang tidaklah berbeda dengan tuhan. Dengan kata lain uang adalah tuhan bagi manusia. Karena uang merupakan penentu bagi kehidupan manusia, atau menurut istilah Marx uang sebagai Sang Sutradara Umum yang mengatur kehidupan manusia. Uang telah muncul sebagi fetis (sesembahan) bagi umat manusia, sebagai kekuatan yang menentukan arah perjalanan hidup manusia.
Uang dalam kaitannya dengan dunia perbankan pada akhirnya melahirkan suatu sistem ekonomi yang disebut dengan sistem kredit. Di sini, Marx melontarkan kritiknya terhadap sistem kredit yang dianggapnya telah menyebabkan dehumanisasi dan alienasi eksistensi manusia. Manusia menjadi kehilangan eksistensi ketika diperhadapkan dengan kredit, karena dengan sistem kredit nilai sebagai manusia telah dipertukarkan dengan uang sebagai materi.
Kredit telah menjadikan manusia sebagai komoditas yang dipertukarkan dengan, lagi-lagi, uang. Nilai manusia dalam sistem kredit ini otomatis menjadi lebih rendah dari uang, karena manusia sebagai individu yang pada hakekatnya independen dari materi apapun telah telah berubah. Dalam hal ini, manusia telah menjadi media pertukaran. Eksistensi manusia telah terpinggirkan demi sebuah nilai yang ditentukan oleh uang.
Peran Agama dalam Dunia Materialisme
Relevansinya dengan hal-hal di atas, peran agama sebagai sebuah ajaran yang dapat memberikan pemahaman etika dan moral menjadi sangat penting. Agama di sini dapat berperan dalam mengembalikan eksistensi manusia yang terpinggirkan dan menjadikan uang hanya sebagai salah satu media penunjang bagi keberlangsungan hidup manusia. Agama dapat berperan mengembalikan uang sebagai alat bagi manusia dalam bersosialisasi, dan bukan justru manusia diperalat oleh uang. Dengan kata lain, dalam kehidupan manusia uang penting bagi penentuan akan nilai yang berwujud materi, tetapi uang bukanlah yang terpenting atau bahkan terutama.
Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah, benarkah agama telah melakukan perannya bagi pengembalian eksistensi manusia yang terpinggirkan oleh uang? Dan sejauh mana peran agama bagi hal di atas dalam kehidupan serba materi sekarang ini?
Di sinilah oto-kritik dan sikap terbuka yang secara berkesinambungan terhadap agama perlu terus dilakukan. Tidak jarang kita temui bahwa agama justru ikut terseret arus materialisme. Begitu juga hal ini terjadi pada agama Kristen. Khotbah-khotbah yang disampaikan bukan tidak ada terlalu asyik dan gencar mengulas mengenai persembahan materi. Bahwa persembahan materi seakan telah menjelma menjadi kemestian dominan dalam kehidupan beragama. Bahwa gereja akan merasa khawatir jika isi kantong persembahan semakin lama semakin berkurang.
Bahkan muncul pemahaman teologis, yang biasa disebut dengan Teologi Kemakmuran, yang memandang bahwa kemiskinan itu adalah akibat dosa yang dibuat manusia. Menjadi miskin itu adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri, sehingga akhirnya stereotipe yang berkembang adalah bahwa menjadi kaya adalah karena beriman. Kemiskinan yang terjadi karena orang miskin memiliki iman rendah. Di sini kemiskinan karena pemiskinan atau faktor eksternal yang membuat manusia menjadi miskin menjadi dikesampingkan.
Sebuah realita yang sangat ironis memang. Agama yang semestinya dapat menjadi media bagi perjuangan menempatkan manusia pada eksistensinya. Perjuangan bagi pengentasan kondisi peminggiran dan dehumanisasi manusia. Perjuangan bagi menempatkan manusia setara dan sederajat satu sama lain.
Berkaca dari pandangan Marx di atas mengenai uang yang hadir sebagai tuhan, dalam kacamata penulis dapat menjadi bahan perenungan untuk tidak membuat agama tidak terjebak menjadi materialisme gaya baru. Bahwa agama dapat menjadi media perjuangan untuk menempatkan uang sebagai ciptaan manusia yang tidak lebih hanya merupakan alat pertukaran dan penentuan nilai materi atau barang. Bahwa uang hadir hanya sebagai alat penunjang yang dikuasai oleh manusia, bukan sebaliknya manusia dikuasai oleh uang.
Agama semestinya mampu, dan memang sangat mampu, untuk melibas alat yang bernama uang menjadi tuhan baru bagi manusia. Karena memang uang bukan Tuhan!
Daftar Pustaka
Audi, Robert (General Ed.). 1995. The Cambridge Dictionary of Philosophy. Cambridge: Cambridge University Press.
Raines, John (Ed.). 2003. Marx tentang Agama. Jakarta: TERAJU.
Sebuah Tinjauan Kritis bagi Agama Berdasarkan Pemikiran Karl Marx
Karl Marx. Sebuah nama dari seorang pemikir –dan ateis! Berkebangsaan Jerman, yang dapat dipastikan bukanlah nama yang asing di dalam dunia universitas atau dunia akademis. Khusus di Indonesia, Karl Marx telah terlanjur lekat dengan stigma ‘orang kiri’, ateis, komunis, dan sosialis-revolusioner yang notabene merupakan hal-hal tabu di masa Orde Baru. Sesuatu yang jangankan untuk dianut, diwacanakan saja dapat dianggap subversif, bahkan dapat dijebloskan ke dalam penjara.
Kisah Hidup Singkat Seorang Karl Marx
Karl Marx lahir di Tier, Jerman pada tahun 1818 dari keturunan rabi Yahudi. Ayahnya adalah seorang pengacara yang dipaksa untuk berpindah agama menjadi Protestan demi karier dan agar tidak diusir dari tempat tinggalnya. Demikian juga dengan Marx kecil yang bersama dengan ke tujuh orang saudaranya dibaptis dan menjadi penganut agama Protestan.
Teologi Evangelis merupakan pemahaman keagamaan pertama yang digeluti oleh Marx, yang didapat semenjak dirinya bersekolah di Sekolah Rakyat (Voklsschule) Protestan. Setelah itu, Marx melanjutkan studi di Universitas Bonn untuk kemudian pindah ke Universitas Berlin. Di Universitas Berlin inilah perhatian Marx terhadap filsafat mulai menemukan bentuknya, di mana Hegel merupakan inspirator utama dari pemikiran-pemikiran Marx.
Seiring perjalanan waktu, Marx semakin lekat dengan pemikiran Hegel yang mengantarkannya pada sebutan ‘Sayap Kiri Hegel’. Setelah meninggalkan bangku kuliah, Marx bekerja sebagai wartawan dan kemudian pindah ke Paris, Perancis tempat ia bertemu dengan Friedrikht Engels (1820–1895). Karena pertolongan Engelslah Marx dapat meneruskan menciptakan karya-karya ilmiahnya. Ketika Marx diusir dari Perancis, ia pindah ke Brussell, Belgia. Dan pada waktu meletus revolusi yang gagal di Jerman pada tahun 1848, Marx pindah ke Koln, Jerman namun kemudian diusir dari sana. Ia pindah lagi ke Perancis dan akhirnya berdiam di London, Inggris, di mana ia melakukan penelitian dan menulis sebagai koresponden di New York Tribunes. Marx meninggal di London pada tahun 1883.
Awal tulisan-tulisannya, Marx kerap melakukan kritik implikasi terhadap religiositas dan politik konservatif berdasarkan pada Filsafat Hegel, yang menyatakan bahwa penerimaan terhadap hubungan kepemilikan pribadi dan alienasi yang dilakukan oleh mereka. Karya pokok Marx adalah ‘Das Kapital’ atau “Kapital”, yang bagian pertamanya ditulis pada tahun 1867. Kedua bagian lain dari ‘Das Kapital’ tidak dapat diselesaikan, karena kesibukan-kesibukan organisasi dan kondisi kesehatannya. Kedua bagian ini kemudian diterbitkan oleh Engels pada tahun 1885 dan tahun 1894.
Uang : Sang Penguasa Baru
Dalam dunia Kapitalisme, uang hadir sebagai sesuatu yang sangat penting. Menurut Marx, kapitalisme telah menampilkan uang (kapital) sebagai alat penukar yang menentukan nilai bagi suatu materi dan juga sebagai mediasi bagi hubungan antar manusia dan juga manusia dengan alam. Uang mengemuka sedemikian rupa sebagai tolok ukur bagi semua sendi kehidupan manusia yang berkaitan dengan proses produksi dan sistem ekonomi.
Manusia menjadi tereksternalisasikan dari uang, manusia menjadi berada di luar uang. Lalu pertanyaan yang muncul adalah mengapa uang dapat menjadi kuasa di atas manusia? Karena manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berusaha untuk melakukan pertukaran materi demi pemenuhan kebutuhan hidupnya. Proses pertukaran di atas, pada akhirnya berujung pada nilai yang mau tidak mau ditentukan oleh uang.
Berdasarkan fakta di atas, Marx mengemukakan pemikiran bahwa uang tidaklah berbeda dengan tuhan. Dengan kata lain uang adalah tuhan bagi manusia. Karena uang merupakan penentu bagi kehidupan manusia, atau menurut istilah Marx uang sebagai Sang Sutradara Umum yang mengatur kehidupan manusia. Uang telah muncul sebagi fetis (sesembahan) bagi umat manusia, sebagai kekuatan yang menentukan arah perjalanan hidup manusia.
Uang dalam kaitannya dengan dunia perbankan pada akhirnya melahirkan suatu sistem ekonomi yang disebut dengan sistem kredit. Di sini, Marx melontarkan kritiknya terhadap sistem kredit yang dianggapnya telah menyebabkan dehumanisasi dan alienasi eksistensi manusia. Manusia menjadi kehilangan eksistensi ketika diperhadapkan dengan kredit, karena dengan sistem kredit nilai sebagai manusia telah dipertukarkan dengan uang sebagai materi.
Kredit telah menjadikan manusia sebagai komoditas yang dipertukarkan dengan, lagi-lagi, uang. Nilai manusia dalam sistem kredit ini otomatis menjadi lebih rendah dari uang, karena manusia sebagai individu yang pada hakekatnya independen dari materi apapun telah telah berubah. Dalam hal ini, manusia telah menjadi media pertukaran. Eksistensi manusia telah terpinggirkan demi sebuah nilai yang ditentukan oleh uang.
Peran Agama dalam Dunia Materialisme
Relevansinya dengan hal-hal di atas, peran agama sebagai sebuah ajaran yang dapat memberikan pemahaman etika dan moral menjadi sangat penting. Agama di sini dapat berperan dalam mengembalikan eksistensi manusia yang terpinggirkan dan menjadikan uang hanya sebagai salah satu media penunjang bagi keberlangsungan hidup manusia. Agama dapat berperan mengembalikan uang sebagai alat bagi manusia dalam bersosialisasi, dan bukan justru manusia diperalat oleh uang. Dengan kata lain, dalam kehidupan manusia uang penting bagi penentuan akan nilai yang berwujud materi, tetapi uang bukanlah yang terpenting atau bahkan terutama.
Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah, benarkah agama telah melakukan perannya bagi pengembalian eksistensi manusia yang terpinggirkan oleh uang? Dan sejauh mana peran agama bagi hal di atas dalam kehidupan serba materi sekarang ini?
Di sinilah oto-kritik dan sikap terbuka yang secara berkesinambungan terhadap agama perlu terus dilakukan. Tidak jarang kita temui bahwa agama justru ikut terseret arus materialisme. Begitu juga hal ini terjadi pada agama Kristen. Khotbah-khotbah yang disampaikan bukan tidak ada terlalu asyik dan gencar mengulas mengenai persembahan materi. Bahwa persembahan materi seakan telah menjelma menjadi kemestian dominan dalam kehidupan beragama. Bahwa gereja akan merasa khawatir jika isi kantong persembahan semakin lama semakin berkurang.
Bahkan muncul pemahaman teologis, yang biasa disebut dengan Teologi Kemakmuran, yang memandang bahwa kemiskinan itu adalah akibat dosa yang dibuat manusia. Menjadi miskin itu adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri, sehingga akhirnya stereotipe yang berkembang adalah bahwa menjadi kaya adalah karena beriman. Kemiskinan yang terjadi karena orang miskin memiliki iman rendah. Di sini kemiskinan karena pemiskinan atau faktor eksternal yang membuat manusia menjadi miskin menjadi dikesampingkan.
Sebuah realita yang sangat ironis memang. Agama yang semestinya dapat menjadi media bagi perjuangan menempatkan manusia pada eksistensinya. Perjuangan bagi pengentasan kondisi peminggiran dan dehumanisasi manusia. Perjuangan bagi menempatkan manusia setara dan sederajat satu sama lain.
Berkaca dari pandangan Marx di atas mengenai uang yang hadir sebagai tuhan, dalam kacamata penulis dapat menjadi bahan perenungan untuk tidak membuat agama tidak terjebak menjadi materialisme gaya baru. Bahwa agama dapat menjadi media perjuangan untuk menempatkan uang sebagai ciptaan manusia yang tidak lebih hanya merupakan alat pertukaran dan penentuan nilai materi atau barang. Bahwa uang hadir hanya sebagai alat penunjang yang dikuasai oleh manusia, bukan sebaliknya manusia dikuasai oleh uang.
Agama semestinya mampu, dan memang sangat mampu, untuk melibas alat yang bernama uang menjadi tuhan baru bagi manusia. Karena memang uang bukan Tuhan!
Daftar Pustaka
Audi, Robert (General Ed.). 1995. The Cambridge Dictionary of Philosophy. Cambridge: Cambridge University Press.
Raines, John (Ed.). 2003. Marx tentang Agama. Jakarta: TERAJU.
Rabu, 21 Januari 2009
DUNIA PENDIDIKAN SEKOLAH MINGGU
Dunia Pendidikan Sekolah Minggu :
KEMANAKAH, WAHAI KAUM LAKI-LAKI?
Oleh : age
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,
maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada
jalan itu.”
Amsal 22 : 6
SEKOLAH MINGGU. Di dalam kehidupan bergereja tentunya bukanlah nama atau istilah yang asing terdengar di telinga. Secara umum, Sekolah Minggu adalah wadah bagi anak balita sampai masa usia pra-remaja untuk dididik dan diajar oleh para pengasuh atau guru Sekolah Minggu mengenai Firman Allah. Melalui Sekolah Minggu anak-anak dididik dan diajar untuk sedini mungkin mengenal Firman Allah. Dengan kata lain, Sekolah Minggu merupakan wadah pendidikan dan pengajaran iman Kristiani bagi anak-anak.
Dalam organisasi gereja, kehadiran Sekolah Minggu tentu saja bukan hanya sekadar pelengkap yang memang harus ada namun ya hanya sebatas ada. Sekolah Minggu merupakan bagian penting dalam gereja yang memiliki potensi dalam proses pembentukan anak untuk dapat tumbuh dan berkembang tidak hanya secara fisik dan intelektual semata, tetapi juga secara emosi, moral, dan spiritual.
Berkaitan dengan betapa pentingnya bidang pelayanan anak di gereja, sama pentingnya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain baik kategorial maupun fungsional. Ada hal yang sedikit menggelitik penulis mengenai dunia pelayanan anak, dalam hal ini implementasinya di dunia pendidikan dan pengajaran Sekolah Minggu, khususnya dengan realita yang ada di dalam orang-orang yang terpanggil untuk menjadi pelayan anak. Hal yang menggelitik tersebut adalah pertanyaan, “Mengapa sedikit sekali kaum laki-laki yang terpanggil untuk menjadi pelayan anak?” Pertanyaan yang seolah diperkuat ketika belum lama ini penulis mengikuti Temu Nasional dan Workshop pelayan anak di Istora Senayan, Jakarta. Dari ribuan peserta yang hadir di acara tersebut, menurut pengamatan penulis persentase kaum laki-laki yang menjadi peserta sangatlah sedikit.
Mungkin pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang biasa-biasa saja, atau bahkan terlalu mengada-ada! Namun, walaupun mungkin baru dapat dikatakan asumsi karena tidak ditopang oleh riset atau penelitian ilmiah, minimnya jumlah pelayan anak dari kaum laki-laki menyiratkan bahwa budaya patriarkal masih sangat kental dalam kehidupan bergereja!
Benarkah pendidikan dan pengajaran anak, dalam hal ini pendidikan dan pengajaran moral dan spiritual di Sekolah Minggu, terutama adalah porsi bagi kaum perempuan? Benarkah bahwa kodrat kaum laki-laki adalah bekerja keras untuk mencari nafkah bagi penghidupan keluarga, sehingga porsi untuk mendidik anak menjadi boleh lebih sedikit dibandingkan kaum perempuan? Dan benarkah bahwa di gereja, kaum laki-laki telah sedemikian sibuk mengurusi hal-hal yang sangat penting dan vital bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja, sehingga bidang pelayanan anak sudah selayaknya diserahkan pada kaum perempuan? Sungguh alangkah perlakuan yang diskriminatif jika pertanyaan-pertanyaan di atas adalah benar adanya!
Jika kita mau bercermin pada apa yang dikatakan Salomo di AMSAL 22 ayat 6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu.” Salomo tidak memberikan spesifikasi berdasarkan jenis kelamin kepada siapa perintah ini ditujukan, misalnya perintah ini khusus bagi kaum ibu atau kaum perempuan. Tidak, sama sekali tidak! Salomo mengarahkan perintah untuk mendidik orang muda atau anak-anak bagi semua orang baik kaum perempuan maupun kaum laki-laki tanpa terkecuali.
Memang jika berbicara secara kodrati, kaum perempuan adalah ibu atau calon ibu yang melahirkan anak-anak. Sudah sewajarnyalah bagi kaum perempuan untuk mencurahkan kasih sayang dan perhatian mereka demi memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak, sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan ini. Namun apakah tugas untuk memberikan pendidikan dan pengajaran anak hanyalah tugas kaum perempuan semata? Tidak, bukan! Salomo pun sebagai seorang laki-laki tidak menyatakan demikian.
Bahkan ketika Allah memerintahkan kepada anak-anak untuk menghormati ayah dan ibu mereka, sekali lagi ayah dan ibu! Bukan hanya menghormati ibu. Perintah yang tentu saja mengandung konsekwensi bahwa jika anak-anak mempunyai tugas untuk menghormati ayah dan ibu mereka, maka ayah dan ibu mempunyai tugas untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak mereka. Sebuah kemestian bahwa tugas memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak bukanlah hanya tugas ibu atau kaum perempuan semata, tetapi adalah juga tugas ayah atau kaum laki-laki.
Ada kesan kuat yang dirasakan penulis bahwa di dalam kehidupan bergereja terdapat paradigma, mudah-mudahan hanya sekadar asumsi, yang menyatakan Sekolah Minggu adalah dunia yang penuh dengan permainan dan hal-hal yang serba sukacita. Dunia yang melulu tanpa beban, tanpa perlu pemikiran-pemikiran yang berat. Dunia yang ringan-ringan saja. Sehingga urusan Sekolah Minggu hanyalah urusan wajib bagi kaum perempuan, sementara bagi kaum laki-laki boleh saja ikut ambil bagian kalau ada waktu. Bagi kaum laki-laki berkiprah atau berpelayanan di Sekolah Minggu bukanlah suatu kemestian. Mau ikut berperan boleh! Tidak mau ambil pusing ya silakan!
Sungguh suatu paradigma yang sangat memprihatinkan, dan tentu saja harus ditiadakan dalam kehidupan bergereja! Sekolah Minggu memang dunia penuh sukacita dan penuh permainan. Namun, berkiprah di dalam pelayanan Sekolah Minggu bukanlah untuk main-main! Sekolah Minggu adalah wadah bagi tumbuh dan berkembangnya moral dan spiritual tunas-tunas muda Kristiani yang perlu dipikirkan dan digeluti secara serius. Dan menjadi tanggung jawab bersama baik bagi kaum perempuan maupun kaum laki-laki untuk senantiasa bergelut dan bergumul mencari format dan metode pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak melalui Sekolah Minggu.
Sudah saatnyalah sekarang, kalau tidak mau dikatakan terlambat, gereja membuang habis akar-akar warisan budaya patriarkal di dalam seluruh sendi kehidupannya. Warisan budaya yang hanya akan melahirkan kesenjangan dan diskriminasi antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Warisan budaya yang hanya akan menghambat pertumbuhan gereja Tuhan di dunia ini. Warisan budaya yang sama sekali tidak adil! Karena manusia adalah kaum laki-laki dan kaum perempuan, bukan hanya kaum laki-laki atau kaum perempuan saja. Karena dalam banyak sisi tidak mungkin laki-laki hidup tanpa perempuan, begitu pun sebaliknya.
Akan lebih indah jika laki-laki dan perempuan dapat bekerja bersama-sama bahu-membahu dalam bergelut dan bergumul di dunia pelayanan anak. Maka tidak akan timbul lagi pertanyaan, “Kemanakah, wahai kaum laki-laki?” Yang ada hanyalah satu tekad, “Inilah kami, laki-laki dan perempuan, yang saling bergandengan tangan berdaya upaya agar anak-anak dapat mewujudkan masa depan mereka yang penuh harapan di dalam KRISTUS! Dan segala kemuliaan hanyalah bagi TUHAN!”
Ladang pelayanan anak masihlah sangat luas untuk bersama-sama kita garap! Tuhan memberkati.
Depok, 15 September 2006
KEMANAKAH, WAHAI KAUM LAKI-LAKI?
Oleh : age
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,
maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada
jalan itu.”
Amsal 22 : 6
SEKOLAH MINGGU. Di dalam kehidupan bergereja tentunya bukanlah nama atau istilah yang asing terdengar di telinga. Secara umum, Sekolah Minggu adalah wadah bagi anak balita sampai masa usia pra-remaja untuk dididik dan diajar oleh para pengasuh atau guru Sekolah Minggu mengenai Firman Allah. Melalui Sekolah Minggu anak-anak dididik dan diajar untuk sedini mungkin mengenal Firman Allah. Dengan kata lain, Sekolah Minggu merupakan wadah pendidikan dan pengajaran iman Kristiani bagi anak-anak.
Dalam organisasi gereja, kehadiran Sekolah Minggu tentu saja bukan hanya sekadar pelengkap yang memang harus ada namun ya hanya sebatas ada. Sekolah Minggu merupakan bagian penting dalam gereja yang memiliki potensi dalam proses pembentukan anak untuk dapat tumbuh dan berkembang tidak hanya secara fisik dan intelektual semata, tetapi juga secara emosi, moral, dan spiritual.
Berkaitan dengan betapa pentingnya bidang pelayanan anak di gereja, sama pentingnya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain baik kategorial maupun fungsional. Ada hal yang sedikit menggelitik penulis mengenai dunia pelayanan anak, dalam hal ini implementasinya di dunia pendidikan dan pengajaran Sekolah Minggu, khususnya dengan realita yang ada di dalam orang-orang yang terpanggil untuk menjadi pelayan anak. Hal yang menggelitik tersebut adalah pertanyaan, “Mengapa sedikit sekali kaum laki-laki yang terpanggil untuk menjadi pelayan anak?” Pertanyaan yang seolah diperkuat ketika belum lama ini penulis mengikuti Temu Nasional dan Workshop pelayan anak di Istora Senayan, Jakarta. Dari ribuan peserta yang hadir di acara tersebut, menurut pengamatan penulis persentase kaum laki-laki yang menjadi peserta sangatlah sedikit.
Mungkin pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang biasa-biasa saja, atau bahkan terlalu mengada-ada! Namun, walaupun mungkin baru dapat dikatakan asumsi karena tidak ditopang oleh riset atau penelitian ilmiah, minimnya jumlah pelayan anak dari kaum laki-laki menyiratkan bahwa budaya patriarkal masih sangat kental dalam kehidupan bergereja!
Benarkah pendidikan dan pengajaran anak, dalam hal ini pendidikan dan pengajaran moral dan spiritual di Sekolah Minggu, terutama adalah porsi bagi kaum perempuan? Benarkah bahwa kodrat kaum laki-laki adalah bekerja keras untuk mencari nafkah bagi penghidupan keluarga, sehingga porsi untuk mendidik anak menjadi boleh lebih sedikit dibandingkan kaum perempuan? Dan benarkah bahwa di gereja, kaum laki-laki telah sedemikian sibuk mengurusi hal-hal yang sangat penting dan vital bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja, sehingga bidang pelayanan anak sudah selayaknya diserahkan pada kaum perempuan? Sungguh alangkah perlakuan yang diskriminatif jika pertanyaan-pertanyaan di atas adalah benar adanya!
Jika kita mau bercermin pada apa yang dikatakan Salomo di AMSAL 22 ayat 6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu.” Salomo tidak memberikan spesifikasi berdasarkan jenis kelamin kepada siapa perintah ini ditujukan, misalnya perintah ini khusus bagi kaum ibu atau kaum perempuan. Tidak, sama sekali tidak! Salomo mengarahkan perintah untuk mendidik orang muda atau anak-anak bagi semua orang baik kaum perempuan maupun kaum laki-laki tanpa terkecuali.
Memang jika berbicara secara kodrati, kaum perempuan adalah ibu atau calon ibu yang melahirkan anak-anak. Sudah sewajarnyalah bagi kaum perempuan untuk mencurahkan kasih sayang dan perhatian mereka demi memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak, sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan ini. Namun apakah tugas untuk memberikan pendidikan dan pengajaran anak hanyalah tugas kaum perempuan semata? Tidak, bukan! Salomo pun sebagai seorang laki-laki tidak menyatakan demikian.
Bahkan ketika Allah memerintahkan kepada anak-anak untuk menghormati ayah dan ibu mereka, sekali lagi ayah dan ibu! Bukan hanya menghormati ibu. Perintah yang tentu saja mengandung konsekwensi bahwa jika anak-anak mempunyai tugas untuk menghormati ayah dan ibu mereka, maka ayah dan ibu mempunyai tugas untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak mereka. Sebuah kemestian bahwa tugas memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak bukanlah hanya tugas ibu atau kaum perempuan semata, tetapi adalah juga tugas ayah atau kaum laki-laki.
Ada kesan kuat yang dirasakan penulis bahwa di dalam kehidupan bergereja terdapat paradigma, mudah-mudahan hanya sekadar asumsi, yang menyatakan Sekolah Minggu adalah dunia yang penuh dengan permainan dan hal-hal yang serba sukacita. Dunia yang melulu tanpa beban, tanpa perlu pemikiran-pemikiran yang berat. Dunia yang ringan-ringan saja. Sehingga urusan Sekolah Minggu hanyalah urusan wajib bagi kaum perempuan, sementara bagi kaum laki-laki boleh saja ikut ambil bagian kalau ada waktu. Bagi kaum laki-laki berkiprah atau berpelayanan di Sekolah Minggu bukanlah suatu kemestian. Mau ikut berperan boleh! Tidak mau ambil pusing ya silakan!
Sungguh suatu paradigma yang sangat memprihatinkan, dan tentu saja harus ditiadakan dalam kehidupan bergereja! Sekolah Minggu memang dunia penuh sukacita dan penuh permainan. Namun, berkiprah di dalam pelayanan Sekolah Minggu bukanlah untuk main-main! Sekolah Minggu adalah wadah bagi tumbuh dan berkembangnya moral dan spiritual tunas-tunas muda Kristiani yang perlu dipikirkan dan digeluti secara serius. Dan menjadi tanggung jawab bersama baik bagi kaum perempuan maupun kaum laki-laki untuk senantiasa bergelut dan bergumul mencari format dan metode pendidikan dan pengajaran yang baik dan tepat bagi anak-anak melalui Sekolah Minggu.
Sudah saatnyalah sekarang, kalau tidak mau dikatakan terlambat, gereja membuang habis akar-akar warisan budaya patriarkal di dalam seluruh sendi kehidupannya. Warisan budaya yang hanya akan melahirkan kesenjangan dan diskriminasi antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Warisan budaya yang hanya akan menghambat pertumbuhan gereja Tuhan di dunia ini. Warisan budaya yang sama sekali tidak adil! Karena manusia adalah kaum laki-laki dan kaum perempuan, bukan hanya kaum laki-laki atau kaum perempuan saja. Karena dalam banyak sisi tidak mungkin laki-laki hidup tanpa perempuan, begitu pun sebaliknya.
Akan lebih indah jika laki-laki dan perempuan dapat bekerja bersama-sama bahu-membahu dalam bergelut dan bergumul di dunia pelayanan anak. Maka tidak akan timbul lagi pertanyaan, “Kemanakah, wahai kaum laki-laki?” Yang ada hanyalah satu tekad, “Inilah kami, laki-laki dan perempuan, yang saling bergandengan tangan berdaya upaya agar anak-anak dapat mewujudkan masa depan mereka yang penuh harapan di dalam KRISTUS! Dan segala kemuliaan hanyalah bagi TUHAN!”
Ladang pelayanan anak masihlah sangat luas untuk bersama-sama kita garap! Tuhan memberkati.
Depok, 15 September 2006
Langganan:
Postingan (Atom)
